Pengalaman Buruk Anggi Pamungkas Saat Bermitra dengan Influencer Lokal
Seorang pengusaha mi ayam dan bakso di Kabupaten Bekasi, Anggi Pamungkas (26), mengalami kekecewaan setelah menjalin kerja sama promosi dengan seorang influencer lokal. Niat sederhana untuk mempromosikan usaha lewat jasa endorsement justru berujung pada polemik yang menimbulkan rasa tidak puas.
Awalnya, Anggi ingin memperluas jangkauan pelanggan melalui kolaborasi dengan seorang influencer yang memiliki banyak pengikut di wilayah Cikarang dan sekitarnya. Ia memilih influencer berinisial PS karena dianggap mampu menjangkau masyarakat setempat.
Kesepakatan yang Tidak Sesuai Harapan
Tarif awal yang ditawarkan oleh PS mencapai Rp 15 juta, namun setelah negosiasi, angka itu turun menjadi Rp 5 juta, lalu Rp 3 juta. Namun, kemampuan Anggi hanya terbatas pada Rp 1 juta. Ia menyampaikan bahwa budget yang dimilikinya hanya Rp 1 juta, dan selebihnya tidak mampu.
PS memberi tahu bahwa akan membantu dengan dana Rp 1 juta di TikTok. Akhirnya, kesepakatan tercapai dengan harga Rp 1 juta. Influencer tersebut dijadwalkan datang pada 29 Januari 2026, bertepatan dengan hari pembukaan usaha Anggi.
Konten yang Tak Pernah Tayang
Pada hari pembukaan, proses pengambilan video berjalan lancar. Anggi menantikan unggahan promosi di TikTok sesuai janji. Namun, malamnya, yang muncul justru konten lain dari PS. Promosi yang dijanjikan tidak pernah tayang.
“Dia bilang menyanggupi. Katanya untuk di konten TikTok ya,” ujar Anggi. “Namun malamnya, yang muncul justru konten lain. Sedangkan endorsement kami itu malah dilupain.”
Beberapa hari kemudian, PS mengaku sakit dan menawarkan pengembalian dana. “Dari P nya itu bilang katanya enggak bisa upload, mau di-refund saja. Ya sudah dari situ kami oke untuk refund,” kata Anggi.

Refund yang Menggantung
Hingga kini, dana Rp 1 juta belum kembali. Anggi mengaku sudah lima kali mendatangi rumah yang bersangkutan. Empat kali pertemuan tanggapan masih bagus, namun pada yang kelima, ia diusir oleh orang tua PS.
Ia juga menyebut belum ada permintaan maaf secara langsung maupun lewat pesan singkat. Di tengah polemik ini, Anggi tidak sendiri. Ia menyebut ada korban lain dengan pola serupa. “Korbannya ada lima termasuk saya. Jadi, saya beranggapan kalau ini enggak diseriusin, bakal ada korban-korban berikutnya.”
Tindakan Polisi dan Persiapan Mediasi
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi, Jerico Lavian Chandra, mengatakan belum ada laporan resmi yang masuk. “Sementara ini korban belum ada yang membuat laporan,” ujarnya. Meski demikian, polisi berencana memfasilitasi mediasi. “Rencana korban akan kami mediasi dan pertemukan dengan yang bersangkutan hari Senin. Ini berdasarkan permintaan dari para korban.”
Hingga berita ini ditayangkan, Kompas.com telah berupaya menghubungi PS melalui pesan langsung di Instagram, namun belum ada tanggapan.
Di balik gemerlap promosi digital, kisah ini menjadi pengingat bahwa di antara angka pengikut dan janji jangkauan luas, ada harapan kecil pelaku UMKM yang dipertaruhkan.





