Kurangi Sampah, Tambah Pahala: Aksi Nyata Ecoton Saat Ramadan

Bb1k8vlc
Bb1k8vlc



SURABAYA – Direktur Ecoton Prigi Arisandi mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum puasa Ramadan 2026 sebagai kesempatan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, terutama dari kemasan makanan dan minuman berbuka. Menurutnya, pendekatan yang menakut-nakuti dengan hukum haram tidak efektif dalam mengubah perilaku masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan ajakan yang lebih realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti menjaga lingkungan sebagai bentuk aksi nyata yang bisa menambah pahala.

Prigi menyebutkan bahwa sekitar 20 persen sampah yang dihasilkan masyarakat Indonesia adalah plastik. Dari total sekitar 40 juta ton sampah per tahun, hanya sekitar 29 juta ton yang terkelola, sementara sisanya berakhir mencemari laut, dibakar menjadi sumber racun udara, atau menumpuk di lahan terbuka. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya masalah plastik di Indonesia.

“Plastik menjadi masalah serius karena daur ulang bukan solusi tuntas. Bahkan, proses daur ulang sering kali memunculkan polusi baru. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menahan diri, termasuk dari penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.

Ia merinci beberapa jenis plastik yang perlu dikurangi selama bulan puasa, antara lain:

  • Tas kresek: Sering digunakan untuk membawa bahan makanan, tetapi sangat sulit didaur ulang.
  • Styrofoam: Digunakan sebagai wadah makanan, namun mudah pecah dan sulit diolah.
  • Kemasan saset makanan dan minuman: Umum digunakan dalam berbagai acara, termasuk saat berbuka puasa.
  • Gelas kertas berlapis plastik: Meskipun terlihat ramah lingkungan, lapisan plastik membuatnya sulit didaur ulang.
  • Air minum dalam kemasan (AMDK): Salah satu sumber utama limbah plastik.
  • Wadah makanan plastik bening: Sering digunakan untuk menyimpan makanan.
  • Sedotan: Banyak digunakan dalam minuman, terutama saat berbuka puasa.
  • Berbagai kemasan sekali pakai lainnya: Termasuk kantong plastik dan kemasan snack.

Ecoton juga mengampanyekan gerakan global Break Free From Plastic sebagai bagian dari upaya menekan produksi dan konsumsi plastik. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak negatif plastik terhadap lingkungan dan kesehatan.

Prigi menekankan bahwa botol plastik AMDK merupakan salah satu sumber mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui air minum dan makanan, serta berpotensi menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

Dalam konteks Ramadan, Prigi menyarankan masyarakat untuk mulai mengganti penggunaan plastik sekali pakai dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, menggunakan tas belanja yang bisa dipakai ulang, gelas atau cangkir yang bisa dicuci, serta membawa botol minum sendiri.

Selain itu, ia juga menyarankan masyarakat untuk memperhatikan kemasan makanan dan minuman yang mereka beli. Pilihlah produk yang menggunakan kemasan ramah lingkungan atau bahan daur ulang.

Dengan mengambil langkah-langkah kecil seperti ini, masyarakat tidak hanya membantu menjaga lingkungan, tetapi juga turut serta dalam menjalankan nilai-nilai puasa yang lebih dalam, yaitu kesadaran akan kebersihan, kesehatan, dan tanggung jawab terhadap sesama dan alam.

Pos terkait