JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) secara resmi mengumumkan laporan keuangan konsolidasi untuk tahun buku 2025. Perusahaan besar ini mencatatkan penurunan performa yang cukup kecil akibat normalisasi harga komoditas dan menurunnya daya beli di pasar kendaraan roda empat.
Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro, menyampaikan bahwa laba grup mengalami penurunan, terutama karena harga batu bara yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya serta kondisi pasar mobil baru yang tidak stabil.
“Namun, kinerja bisnis grup tetap tangguh berkat kontribusi yang baik dari berbagai bisnis lainnya,” ujar Djony dalam pernyataan resmi, Jumat (27/2/2026).
Laba Bersih ASII Terkoreksi 3,34%
Selama tahun 2025, induk Grup Astra ini mencatat pendapatan bersih sebesar Rp323,39 triliun. Angka ini mengalami penurunan sebesar 1,54% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan posisi Rp328,48 triliun pada tahun 2024. Penurunan ini sejalan dengan penurunan beban pokok pendapatan menjadi Rp251,94 triliun.
Koreksi pada sisi top line juga memengaruhi laba bersih perseroan. ASII berhasil meraih laba yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp32,76 triliun pada 2025, melemah 3,34% YoY dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp33,9 triliun.
Secara detail, divisi alat berat dan pertambangan menjadi pemberat utama dengan penurunan laba hingga 24% YoY. Meski demikian, divisi otomotif masih menjadi kontributor terbesar dengan laba senilai Rp11,36 triliun, disusul oleh pertambangan dan alat berat dengan Rp9,09 triliun, serta jasa keuangan yang menyumbang Rp8,95 triliun.
United Tractors (UNTR): Tertekan Harga Batu Bara
PT United Tractors Tbk. (UNTR) mencatatkan penurunan laba bersih yang signifikan sebesar 24,17% secara tahunan menjadi Rp14,81 triliun. Pendapatan bersih UNTR juga terkoreksi 2,32% menjadi Rp131,3 triliun.
Manajemen UNTR menjelaskan bahwa kinerja tertekan oleh penurunan harga jual batu bara termal dan metalurgi. Selain itu, segmen kontraktor penambangan menghadapi kendala operasional akibat curah hujan yang tinggi.
Meskipun begitu, anak usaha Astra di sektor pertambangan dan alat berat ini agresif melakukan aksi korporasi dengan menyelesaikan buyback saham senilai Rp2 triliun pada Januari 2026 dan melanjutkan tahap kedua dengan nilai yang sama.
Perseroan juga baru saja menyelesaikan akuisisi 100% saham PT Arafura Surya Alam, sebuah perusahaan tambang emas di Sulawesi Utara. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat diversifikasi mineral selain batu bara.
Astra Agro Lestari (AALI): Berjaya di Tengah Kenaikan Harga Sawit
Berbeda dengan sang induk, emiten sawit PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) justru mencatatkan pertumbuhan signifikan. AALI meraup pendapatan sebesar Rp28,6 triliun, melonjak 31,35% YoY dari posisi tahun sebelumnya.
Laba bersih AALI naik 28,25% menjadi Rp1,47 triliun. Kinerja positif ini didominasi oleh penjualan minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya yang mencapai Rp25,52 triliun. Dari sisi operasional, wilayah Sulawesi menjadi kontributor terbesar bagi AALI dengan pendapatan sebesar Rp16,67 triliun.
Astra Otoparts (AUTO): Cetak Rekor Laba Tertinggi 4 Tahun
Prestasi gemilang ditorehkan PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO). Emiten komponen otomotif ini meraih laba bersih sebesar Rp2,21 triliun, tumbuh 8,4% YoY. Capaian ini merupakan rekor laba tertinggi perseroan selama empat tahun berturut-turut.
Presiden Direktur Astra Otoparts, Hamdhani Dzulkarnaen Salim, menyebut bahwa diversifikasi portofolio manufaktur dan perdagangan menjadi kunci sukses. “Ketangguhan ini menjadi landasan bagi perseroan untuk terus bertumbuh, tercermin dari kenaikan pendapatan dan laba bersih yang mencetak rekor baru dan tertinggi,” ujar Hamdhani dalam pernyataan resmi, Selasa (24/2/2026).
Pendapatan bersih AUTO tercatat tumbuh 4,37% menjadi Rp19,90 triliun, didukung oleh efisiensi sehingga beban pokok hanya naik tipis 3,33%.
Astra Graphia (ASGR): Transformasi Berbuah Manis
PT Astra Graphia Tbk. (ASGR) juga menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 32,22% YoY menjadi Rp270,61 miliar. Menariknya, pertumbuhan tersebut bukan berasal dari bisnis dokumen konvensional, melainkan dari segmen solusi teknologi informasi.
Presiden Direktur Astra Graphia, Hendrix Pramana, menjelaskan bahwa segmen tersebut telah bertransformasi menjadi IT Professional Services dan menyumbang pendapatan sebesar Rp1,65 triliun, tumbuh 15,38% YoY.
Strategi operational excellence dan digitalisasi proses bisnis menjadi faktor utama yang mendongkrak laba bruto konsolidasian perseroan hingga 12%.





