Laba Bersih BCA Meningkat Signifikan pada Tahun 2025
Jakarta — PT Dwimuria Investama Andalan mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp31,64 triliun pada tahun buku 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 6,3% dibandingkan realisasi tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp29,74 triliun. Sebagai informasi, Dwimuria Investama Andalan merupakan pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sebesar 54,94% atas PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau BCA per 31 Desember 2025 dan 2024.
Kinerja Keuangan BCA pada Tahun 2025
Berdasarkan laporan keuangan sepanjang 2025 yang disampaikan oleh BCA melalui situs resminya, total pendapatan bunga dan syariah bruto tercatat sebesar Rp100,19 triliun. Angka ini meningkat sebesar 4,6% dibandingkan dengan Rp95,78 triliun pada tahun sebelumnya. Pendapatan bunga naik 4,5% menjadi Rp99,25 triliun dari Rp94,98 triliun, sedangkan pendapatan syariah tumbuh 17,5% menjadi Rp946,02 miliar dari Rp805,11 miliar.
Beban bunga dan syariah juga mengalami kenaikan sebesar 6,8% menjadi Rp13,38 triliun dari Rp12,53 triliun. Beban bunga naik 6,1% menjadi Rp12,87 triliun dari Rp12,13 triliun, sementara beban syariah melonjak 29% menjadi Rp509,26 miliar dari Rp394,84 miliar. Dengan demikian, pendapatan bunga dan syariah bersih tetap tumbuh 4,2% menjadi Rp86,81 triliun, dibandingkan Rp83,25 triliun pada 2024.
Pendapatan operasional lainnya juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Pendapatan provisi dan komisi bersih naik 11% menjadi Rp19,89 triliun dari Rp17,90 triliun. Pendapatan transaksi yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi melonjak 111,8% menjadi Rp3,18 triliun dari Rp1,50 triliun. Pos lain-lain juga meningkat 52,2% menjadi Rp3,44 triliun dari Rp2,26 triliun.
Secara keseluruhan, pendapatan operasional lainnya mencapai Rp26,50 triliun, naik 22,3% dari Rp21,66 triliun pada 2024.
Pencadangan dan Beban Operasional
Dari sisi pencadangan, beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset meningkat signifikan menjadi Rp4,45 triliun, melonjak 118,5% dibandingkan Rp2,03 triliun pada tahun sebelumnya. Beban operasional lainnya naik 3,2% menjadi Rp37,55 triliun dari Rp36,37 triliun. Beban karyawan tercatat Rp18,03 triliun atau tumbuh 3,1% dari Rp17,48 triliun. Beban umum dan administrasi meningkat 2,91% menjadi Rp17,39 triliun dari Rp16,90 triliun, sementara beban lain-lain naik 6,9% menjadi Rp2,13 triliun dari Rp1,99 triliun.
Dengan struktur tersebut, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp71,46 triliun, meningkat 5,3% dari Rp67,86 triliun pada 2024. Beban pajak penghasilan naik 2,9% menjadi Rp13,79 triliun dari Rp13,40 triliun.
Kinerja Neraca BCA
Dari sisi neraca, total aset konsolidasian Dwimuria per 31 Desember 2025 mencapai Rp1.736,92 triliun, tumbuh 9% dibandingkan Rp1.592,36 triliun pada akhir 2024. Kredit yang diberikan setelah cadangan meningkat menjadi Rp939,82 triliun, naik 8,1% dari Rp868,69 triliun. Efek untuk tujuan investasi naik 11,1% menjadi Rp413,37 triliun dari Rp372,09 triliun. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi melonjak 75,6% menjadi Rp47,94 triliun dari Rp27,28 triliun.
Simpanan dari nasabah mencapai Rp1.233,76 triliun, meningkat 10,1% dibandingkan Rp1.119,99 triliun pada 2024. Total liabilitas tercatat Rp1.296,53 triliun, naik 10,2% dari Rp1.176,47 triliun. Adapun total ekuitas naik 5,7% menjadi Rp429,76 triliun dari Rp406,40 triliun. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 5,4% menjadi Rp303,07 triliun dari Rp287,40 triliun.
Pertumbuhan Laba Bersih BCA
Sebagaimana diketahui, BCA membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang 2025. BBCA mencatat pertumbuhan kredit sebesar 7,7% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp993 triliun per Desember 2025, seiring komitmen perseroan mendorong pembiayaan ke sektor riil dan konsumsi domestik.
Sepanjang 2025, rata-rata pertumbuhan kredit BCA bahkan mencapai 10,8%, dengan penyaluran tersebar ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, hingga rumah tangga. Kredit usaha menjadi kontributor utama, tumbuh 9,9% YoY mencapai Rp756,5 triliun pada akhir 2025.
Di sisi pembiayaan konsumer, BCA membukukan outstanding sebesar Rp224,1 triliun. Penyaluran tersebut ditopang oleh kredit pemilikan rumah (KPR) yang mencapai Rp142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp56,6 triliun. Sementara itu, pinjaman konsumer lainnya, yang mayoritas berasal dari kartu kredit, tumbuh 9,8% YoY menjadi Rp25,2 triliun.
Selain kredit konvensional, pembiayaan ke sektor berkelanjutan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Kredit berkelanjutan tumbuh 11,7% YoY menjadi Rp255 triliun atau setara 25,8% dari total portofolio pembiayaan. Pembiayaan energi baru terbarukan tercatat melonjak hingga dua kali lipat menjadi Rp6,2 triliun, sementara kredit kendaraan listrik naik 53% YoY menjadi Rp3,6 triliun.





