Pertumbuhan Penjualan dan Laba Garudafood Tercatat Signifikan di Tahun 2025
PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD) berhasil mencatatkan peningkatan signifikan dalam kinerja keuangan pada tahun 2025. Dalam laporan keuangan yang dirilis per 31 Desember 2025, perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar Rp13,12 triliun. Angka ini meningkat sebesar 7,22% dibandingkan dengan penjualan bersih pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp12,23 triliun.
Penjualan bersih GOOD didominasi oleh produk makanan dalam kemasan yang mencapai Rp11,79 triliun. Sementara itu, segmen minuman menghasilkan penjualan bersih sebesar Rp1,32 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis makanan dalam kemasan tetap menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.
Dari sisi profitabilitas, GOOD berhasil mencatatkan EBITDA sebesar Rp1,51 triliun pada tahun 2025, naik dari Rp1,43 triliun pada tahun 2024. Selain itu, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih GOOD juga meningkat sebesar 10,27% YoY. Pada tahun 2024, laba bersih GOOD tercatat sebesar Rp624,47 miliar, sedangkan pada tahun 2025 meningkat menjadi Rp688,65 miliar.
Laba per saham Garudafood juga mengalami peningkatan. Sebelumnya, laba per saham tercatat sebesar Rp16,93, dan kini meningkat menjadi Rp18,67. Peningkatan ini menunjukkan kinerja keuangan yang semakin stabil dan kuat.
Dari sisi neraca keuangan, total aset yang dimiliki Garudafood mencapai Rp9,33 triliun per 31 Desember 2025. Sementara itu, total liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp4,97 triliun, dan total ekuitasnya mencapai Rp4,36 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa struktur keuangan perusahaan tetap sehat dan dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Kolaborasi dengan Petani di Sumedang untuk Pengembangan Bahan Baku Kacang Tanah
Sebelumnya, Rudy Brigianto, Direktur Farming Garudafood Putra Putri Jaya, menjelaskan bahwa Sumedang memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kacang tanah sebagai bahan baku utama produk unggulan perusahaan seperti Kacang Garuda dan Kacang Rosta.
“Perusahaan menilai peluang tersebut sangat strategis mengingat saat ini sekitar 95% kebutuhan bahan baku kacang tanah masih berasal dari impor, padahal potensi produksi dalam negeri dinilai mampu memenuhi kebutuhan industri,” ujarnya.
Dalam skema kerja sama ini, Garudafood akan berperan sebagai offtaker atau penyerap hasil panen petani, sekaligus memberikan pendampingan teknis budidaya, penyediaan bibit unggul, monitoring produksi, hingga penetapan harga pengaman guna melindungi petani dari fluktuasi harga pasar.
“Perusahaan berkomitmen menjamin penyerapan hasil panen petani dalam jangka waktu 5 hingga 6 tahun melalui pola kemitraan yang terstruktur,” kata Rudy.
Dia menambahkan bahwa hasil survei sementara menunjukkan sejumlah wilayah di Sumedang memiliki potensi lahan yang cukup baik untuk pengembangan komoditas kacang tanah. Meski demikian, masih diperlukan peningkatan kapasitas petani serta penguatan sarana prasarana pendukung untuk memastikan keberlanjutan produksi.
Strategi Jangka Panjang untuk Meningkatkan Produksi Lokal
Dengan adanya kolaborasi ini, Garudafood berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor kacang tanah dan memperkuat pasokan bahan baku secara lokal. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani melalui pendampingan teknis dan perlindungan harga pasar.
Garudafood berkomitmen untuk terus memperluas kerja sama dengan petani di berbagai daerah, tidak hanya di Sumedang, tetapi juga di wilayah lain yang memiliki potensi serupa. Dengan demikian, perusahaan dapat memastikan ketersediaan bahan baku yang berkualitas dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan bisnisnya.





