Laba Sari Roti Menurun 28,69% Jadi Rp258,51 Miliar di 2025

Aa1xkfvn
Aa1xkfvn



JAKARTA – PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI), yang merupakan emiten produsen Sari Roti, mencatat kinerja yang menurun sepanjang tahun lalu. Laba bersih perseroan mengalami penurunan sebesar 28,69% dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi, ROTI berhasil meraih pendapatan sebesar Rp3,75 triliun pada tahun lalu. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 4,58% dibandingkan pendapatan sebesar Rp3,93 triliun pada periode yang sama di tahun 2024.

Dalam hal segmen penjualan, penjualan roti tawar masih menjadi kontributor terbesar dengan angka mencapai Rp2,42 triliun. Diikuti oleh penjualan roti manis sebesar Rp1,66 triliun, kue sebesar Rp367,29 miliar, serta pendapatan lain-lain senilai Rp104,57 miliar. Namun, penjualan dari dua segmen utama tersebut mengalami penurunan masing-masing sebesar 6,92% dan 1,19% dibandingkan tahun sebelumnya.

Secara regional, penjualan ROTI dibagi menjadi tiga wilayah utama, yaitu Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur. Masing-masing wilayah mencatatkan penjualan sebesar Rp624,61 miliar, Rp1,92 triliun, dan Rp1,20 triliun. Sayangnya, ketiga wilayah tersebut juga mengalami penurunan dalam penjualan pada tahun lalu.

Kemunduran penjualan berdampak pada beban pokok pendapatan perseroan. Beban tersebut turun menjadi Rp1,76 triliun dari sebelumnya Rp1,78 triliun pada 2024. Akibatnya, laba bruto yang dicatatkan hanya sebesar Rp1,99 triliun, turun 7,00% YoY dari Rp2,14 triliun pada periode yang sama 2024.

Setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, ROTI hanya mampu membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp258,51 miliar. Angka ini turun 28,69% dibandingkan laba sebesar Rp362,56 miliar pada periode yang sama 2024.

Laba per saham ROTI juga mengalami penurunan, turun menjadi Rp45,81 per saham pada 2025 dari Rp63,57 per saham pada periode Januari—Desember 2024.

Dari sisi neraca, ROTI mencatat total aset sebesar Rp3,53 triliun per Desember 2025. Posisi aset ini lebih rendah dibandingkan posisi aset pada Desember 2024 yang sebesar Rp3,74 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan aset lancar dan tidak lancar milik perseroan.

Sementara itu, liabilitas ROTI meningkat menjadi Rp1,49 triliun pada Desember 2025, naik dari Rp1,43 triliun pada periode yang sama 2024. Ekuitas perusahaan juga mengalami penurunan, turun menjadi Rp2,04 triliun dari Rp2,30 triliun pada tahun 2024.

”Meskipun masih menghadapi tantangan seperti pelemahan daya beli dan perubahan pola konsumsi masyarakat, dengan fundamental usaha yang kuat, perusahaan mampu meraih penjualan sebesar Rp3,75 triliun,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi.

Pos terkait