JAKARTA — PT Bank UOB Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,59 triliun pada tahun berjalan 2025. Angka ini meningkat signifikan sebesar 276,40% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu Rp406,24 miliar.
Peningkatan laba tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang naik sebesar 1,85% YoY menjadi Rp5,80 triliun. Pada 2024, pendapatan bunga bersih bank ini tercatat sebesar Rp5,70 triliun. Selain itu, penurunan beban operasional lainnya juga memberi kontribusi besar terhadap kenaikan laba. Beban operasional lainnya turun 23,07% YoY dari Rp5,09 triliun pada 2024 menjadi Rp3,91 triliun hingga akhir 2025.
Penurunan beban operasional ini dipengaruhi oleh pengurangan beberapa komponen nonbunga. Di antaranya, beban lainnya mengalami penurunan sebesar 9,66% YoY menjadi Rp3,31 triliun dari Rp3,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Beban tenaga kerja dan beban promosi juga turun. Beban tenaga kerja menurun 11,11% YoY dari Rp2,86 triliun menjadi Rp2,54 triliun. Sementara beban promosi turun signifikan 23,64% YoY dari Rp237,90 miliar menjadi Rp181,65 miliar.
Selain itu, komponen nonbungan lain seperti impairment juga mengalami penurunan. Impairment UOB Indonesia turun 28,23% YoY menjadi Rp768,96 miliar dari Rp1,07 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba operasional perseroan juga mengalami peningkatan signifikan. Tercatat, laba operasional naik 210,65% YoY menjadi Rp1,88 triliun hingga akhir 2025, dari Rp607,81 miliar pada 2024. Laba nonoperasional juga tercatat sebesar Rp69,77 miliar pada 2025, setelah pada 2024 mencatatkan rugi sebesar Rp42,77 miliar.
Laba tahun berjalan sebelum pajak juga tumbuh sebesar 246,51% YoY dari Rp565,04 miliar pada 2024 menjadi Rp1,95 triliun hingga akhir 2025.
Dari sisi intermediasi, kredit yang disalurkan oleh UOB Indonesia meningkat 11,32% YoY menjadi Rp111,78 triliun. Pada 2024, kredit yang disalurkan hanya mencapai Rp100,41 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) UOB Indonesia meningkat 14,03% YoY menjadi Rp133,31 triliun hingga akhir 2025, dibandingkan Rp116,91 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan DPK ini didorong oleh dana murah yang mencapai Rp79,67 triliun, tumbuh 18,55% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp67,21 triliun.
Dalam indikator keuangan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) Bank UOB Indonesia naik dari 16,51% pada 2024 menjadi 19,51% pada 2025. Untuk kualitas kredit, NPL gross tercatat sebesar 1,80% hingga akhir 2025, turun dari 2,05% pada tahun sebelumnya. NPL net juga turun dari 1,11% menjadi 1,02% pada 2025.
Pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM) terpantau turun dari 3,92% menjadi 3,81% hingga akhir 2025. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga turun menjadi 86,39% dari 95,64% pada tahun sebelumnya.





