Konsolidasi Harga Emas Pasca-Penurunan Awal Pekan
Harga emas dunia di pasar spot mengalami konsolidasi setelah mengalami reli yang signifikan pada awal pekan. Pada awal perdagangan hari ini, Selasa (3/3), harga emas batangan sempat turun sebesar 0,3% sebelum akhirnya berbalik naik sekitar 1%. Hal ini menunjukkan fluktuasi yang cukup besar dalam waktu singkat.
Pada perdagangan hari kemarin, harga logam mulia ini melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan karena meningkatnya permintaan aset safe haven setelah meluasnya konflik antara Iran dan AS-Israel. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan terus melakukan serangan militer terhadap Iran selama diperlukan. Ia juga merinci empat tujuan utama untuk mengurangi ancaman dari Teheran. Di sisi lain, harga perak dan paladium tercatat melemah.
Pada perdagangan hari ini pukul 4.59 WIB, harga emas berada pada level US$5.322,12 per troy ounce. Level ini menunjukkan kenaikan sebesar US$43,19 atau 0,82% dibandingkan periode penutupan sebelumnya.
Frank Monkam, kepala strategi makro lintas aset dan perdagangan di Buffalo Bayou Commodities, menyebut bahwa ruang kenaikan emas menjadi terbatas karena pelaku pasar mulai memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi. Kondisi ini berpotensi memaksa Federal Reserve (The Fed) dan bank sentral global lainnya untuk menaikkan suku bunga guna menghambat laju kenaikan harga barang dan jasa. Bahkan, pelaku pasar swap telah mengurangi taruhan terhadap besarnya penurunan suku bunga.
Menurut Bloomberg, kenaikan suku bunga umumnya berdampak negatif bagi harga emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil. Namun, ketegangan geopolitik yang meluas serta perubahan besar dalam hubungan internasional dan perdagangan di bawah pemerintahan Trump masih menjadi penopang reli jangka panjang emas. Dukungan juga datang dari meningkatnya pembelian oleh bank sentral serta kekhawatiran investor terhadap inflasi dan pelemahan nilai mata uang.
“Emas diperkirakan akan diuntungkan dari ketidakstabilan geopolitik, berkurangnya selera risiko, dan kekhawatiran inflasi di tengah melonjaknya biaya energi,” tulis analis TD Securities dalam catatan terbarunya.
Para pedagang komoditas yang sebelumnya menarik diri dari posisi long emas disebut berpeluang kembali masuk seiring perkembangan konflik di Timur Tengah.
Harga emas mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di tengah pecahnya perang di kawasan tersebut. Sepanjang tahun ini, harga emas batangan telah naik sekitar 23%, meskipun sempat terkoreksi tajam dari rekor US$5.595 per troy ounce pada akhir Januari 2026 lalu.
Dampak konflik juga merembet ke rantai pasok emas global. Serangan balasan Teheran mencakup Uni Emirat Arab (UEA), jalur penting perdagangan emas dunia. UEA memasok emas batangan ke China dan India serta menjadi koridor pengiriman dari London, pusat perdagangan spot utama. Penutupan sebagian wilayah udara dan penangguhan penerbangan di Dubai sempat menghentikan arus pergerakan logam mulia.
Seorang pedagang menyebut hari Senin dihabiskan untuk mengalihkan pengiriman yang sebelumnya dijadwalkan transit melalui Dubai. Emas umumnya diangkut melalui kargo pesawat penumpang, terutama pada rute London–Dubai yang padat.
Manish Kabra, kepala strategi ekuitas AS di Societe Generale SA, mengatakan sebagian besar premi risiko geopolitik telah tercermin pada harga minyak. Namun, emas tetap menjadi instrumen lindung nilai utama terhadap guncangan harga energi.
Pada penutupan perdagangan hari Senin, harga emas spot naik 0,95%. Perak turun 4,6% menjadi US$89,43 per troy, sementara paladium melemah 0,62%. Indeks Spot Dolar Bloomberg tercatat naik 0,7%.





