Lama Tak Terdengar, Kondisi Chelsea Olivia Memburuk hingga 4 Kali Operasi Organ Reproduksi

Aa1xp3wz
Aa1xp3wz

Pengalaman Chelsea Olivia dengan Gangguan Hormon

Perjalanan kesehatan Chelsea Olivia dimulai sejak Januari, ketika ia pulang dari Jepang. Pada saat itu, menstruasi yang biasanya normal berubah menjadi lebih nyeri dan kram yang sangat kuat. Ia awalnya mengira hal ini hanya akibat kelelahan setelah liburan, tetapi kondisi tersebut tidak kunjung membaik. Perdarahan terus berlanjut hingga mencapai dua bulan.

“Awalnya aku pikir wajar, mungkin aku karena kecapekan setelah liburan. Tapi ternyata tidak berhenti. Sudah 10 hari, lalu 2 minggu hingga memasuki 2 bulan, aku masih terus berdarah. Akhirnya aku langsung kontrol ke dokter obgyn,” ujar Chelsea.

Pemeriksaan hormon dan kondisi rahim dilakukan, tetapi hasilnya dinyatakan baik. Ia hanya diberi terapi hormon penyeimbang. Namun, setelah beberapa waktu, tidak ada perubahan signifikan. Ia kemudian beralih ke dokter penyakit dalam dan menjalani tes darah lengkap. Hasilnya kembali dinyatakan normal.

“Aku pun memutuskan untuk periksa ke dokter internis. Dilakukan pemeriksaan darah lengkap, tapi lagi-lagi tidak ditemukan masalah. All good, hasil darah pun semua baik, hanya ada beberapa yang rendah.”

Akhirnya, ia kembali ke dokter obgyn untuk melepas IUD. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa semuanya dalam kondisi baik. Telur banyak, rahim sehat, tidak ada miom, kista, dan lain-lain. Namun, pertanyaannya tetap sama: mengapa perdarahan terus berlangsung?

Selama periode tersebut, Chelsea mengalami perut membengkak, kram hebat, lemas, pusing, hingga kenaikan berat badan sekitar 5 kilogram. Kondisi ini membuatnya kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Mencari Pendapat di Malaysia

Rasa penasaran membawanya untuk mencari pendapat lain ke luar negeri. Di Malaysia, dokter menjelaskan kemungkinan adanya ketidakseimbangan hormon sebagai penyebab. “Jadi pertanyaan kenapa dok? Apakah pola makanku yang salah? Kurang olahraga? Atau apa? Jawabannya 1… Tidak ada yang bisa memastikan, karena imbalance hormon bisa terjadi pada semua orang (apalagi yang sudah melahirkan) dan faktor genetik-ku. Intinya tidak perlu khawatir, besok akan kita bereskan dengan prosedur small surgery.”

Ia kemudian menjalani empat prosedur operasi minimal invasif: hysteroscopy, polypectomy, D&C, dan endometrial resection. Tindakan tersebut bertujuan untuk mendiagnosis sekaligus menangani kelainan dalam rahim tanpa sayatan luar.

Pesan untuk Para Perempuan

Di tengah proses pengobatan, Chelsea membagikan pesan penting bagi para perempuan agar tidak menunda pemeriksaan kesehatan reproduksi. “Buat para wanita harus rajin check up yahh (papsmear, check up darah komplit 1 tahun 1x). Ini selalu aku lakukan, dan jika kamu merasa badanmu tidak bersahabat terus menerus, ada baiknya langsung cari second opini ke profesional dan test Hormon (ini sangat membantu). Catat tanggal mens dan juga selesainya.”

Ia menambahkan, “Jadi kalau ada kejadian seperti ini, aku gampang untuk track lebih lanjut! Lebih cepat lebih baik. We can do this girls.”

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa gangguan hormon dapat terjadi tanpa tanda jelas, dan deteksi dini melalui pemeriksaan rutin sangatlah penting.

Pos terkait