Laporan Keamanan Energi Indonesia di Tengah Ancaman Pasokan Global

Aa1xm9u1 1
Aa1xm9u1 1

Tensi Global yang Memicu Lonjakan Harga Energi

Kenaikan harga minyak dan gas terjadi akibat ketegangan global yang meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang berujung pada kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Tensi masih berlangsung dengan serangan balasan dan pertukaran rudal antara pihak-pihak terkait, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, khususnya dari kawasan Timur Tengah.

Di tengah situasi ini, muncul pertanyaan penting: seberapa kuat negara-negara Asia Tenggara menghadapi guncangan energi?

Berdasarkan Energy Trilemma Index yang dirilis World Energy Council (WEC), Indonesia dan Malaysia termasuk dalam kelompok negara dengan keamanan energi relatif baik. Dalam aspek keamanan pasokan energi, keduanya mendapatkan nilai A. Namun, nilai tersebut tidak berarti bahwa kedua negara tersebut benar-benar aman atau tidak rentan terhadap krisis. Penilaian WEC bersifat komparatif, artinya dibandingkan banyak negara lain di dunia, Indonesia dan Malaysia dinilai lebih mampu menjaga ketersediaan energi dan menjaga sistem tetap berjalan.

Di sisi lain, untuk aspek keberlanjutan lingkungan, Indonesia dan Malaysia hanya meraih nilai C. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pasokan energi relatif stabil, struktur energi mereka masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Dalam kawasan Asia Tenggara, Indonesia dan Malaysia memiliki skor keamanan energi tertinggi. Sementara itu, Singapura dan Brunei berada di posisi terbawah karena keterbatasan sumber daya domestik dan tingginya ketergantungan pada impor energi.

Indeks Keamanan Energi Global

Indonesia diperkuat oleh cadangan batu bara dan penggunaan biodiesel. World Energy Council menyoroti peran Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia dengan cadangan yang melimpah. Batu bara selama ini menjadi “benteng” utama pasokan listrik nasional.

Selain itu, program biodiesel berbasis sawit turut memperkuat posisi tersebut. Campuran biodiesel kini mencapai B40, yaitu 40 persen solar dicampur bahan bakar nabati dari minyak sawit. Kebijakan ini membantu mengurangi impor solar dan mengurangi tekanan terhadap neraca energi.

Pasokan gas alam juga menjadi faktor penting. Meskipun kebutuhan dalam negeri terus meningkat, Indonesia masih menjadi eksportir gas alam. Namun, impor gas berpotensi meningkat di masa depan.

Secara keseluruhan, Indonesia relatif aman dalam hal ketersediaan energi karena memiliki cadangan domestik. Namun, ketergantungan pada batu bara dan sawit membuat skor keberlanjutannya rendah.

Indonesia memiliki bantalan melalui cadangan batu bara dan kebijakan biodiesel. Namun, selama konsumsi minyak dan gas masih besar dan sebagian pasokannya bergantung pada pasar global, situasinya tidak sepenuhnya aman. Gejolak di luar negeri bisa dengan cepat memengaruhi harga energi, biaya logistik, hingga harga produk dan jasa di dalam negeri.

Pos terkait