Lebanon dan Pakistan Dilanda Kekacauan, Ratusan Tewas dan Ribuan Mengungsi

113808838 Mediaitem113808837 2
113808838 Mediaitem113808837 2

Situasi Kekacauan di Pakistan dan Lebanon Akibat Serangan AS-Israel ke Iran

Serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memicu situasi kacau di berbagai negara, termasuk Pakistan dan Lebanon. Banyak orang tewas dan ribuan warga mengungsi akibat ketegangan yang meningkat. Di Pakistan, protes besar-besaran terjadi setelah serangan tersebut, sementara di Lebanon, kepanikan melanda karena serangan udara Israel.

22 Orang Tewas di Pakistan

Di Pakistan, sebanyak 22 orang tewas dalam protes yang memicu kekacauan. Pemerintah memberlakukan jam malam selama tiga hari di kota-kota utara seperti Gilgit dan Skardu. Ribuan orang turun ke jalan untuk menentang serangan AS-Israel terhadap Iran dan pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Demonstran Syiah juga menyerang kantor Kelompok Pengamat Militer PBB yang memantau gencatan senjata di wilayah Himalaya Kashmir serta Program Pembangunan PBB di kota Skardu. Gedung PBB dibakar oleh para demonstran, sehingga asap mengepul dari bangunan tersebut. Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyatakan bahwa keselamatan dan keamanan personel serta fasilitas PBB tetap menjadi prioritas utama.

Jam malam diberlakukan untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Shabir Mir, Juru Bicara Pemerintah Gilgit-Baltistan, menyatakan bahwa situasi saat ini terkendali, meskipun jam malam akan tetap berlaku hingga Rabu mendatang.

Konsulat AS di Karachi Diserbu

Sementara itu, di Karachi, konsulat Amerika Serikat diserbu oleh para pengunjuk rasa. Setidaknya 10 orang tewas dan hampir 120 orang terluka. Demonstrasi juga terjadi di Gilgit-Baltistan, di mana 12 orang lainnya tewas dan sekitar 80 orang terluka dalam bentrokan dengan polisi.

Pembunuhan Ayatollah Khamenei menuai kecaman dari seluruh dunia, terutama dari Muslim Syiah yang menghormatinya sebagai otoritas agama. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengutuk pembunuhan itu sebagai kejahatan besar. Mamoona Sherazi, yang menghadiri demonstrasi di Karachi, berkata, “Insya Allah, kami tidak akan pernah tunduk kepada Amerika dan Israel.”

Presiden Pakistan Asif Ali Zardari menyampaikan belasungkawa atas kemartiran Khamenei dan menyatakan bahwa Pakistan berdiri bersama bangsa Iran di saat duka ini. Pemerintah provinsi Sindh memperingatkan masyarakat agar tidak terlibat dalam kekerasan.

Protes di Irak dan Asia Selatan

Di Irak, pasukan keamanan menembakkan gas air mata kepada para demonstran yang mencoba memasuki Zona Hijau yang dibentengi. Demonstran yang mengibarkan bendera kelompok bersenjata pro-Iran melemparkan batu ke arah pasukan keamanan. Protes juga terjadi di seluruh Irak selatan.

Di Asia Selatan, para pelayat Syiah turun ke jalan untuk mengungkapkan kesedihan dan kemarahan atas pembunuhan Khamenei. Di wilayah Himalaya Kashmir yang bergejolak di India, puluhan ribu demonstran memukul dada mereka sebagai tanda duka cita sambil meneriakkan, “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel”. Di New Delhi, para pelayat Syiah meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintahan Donald Trump.

Lebanon Mengalami Kekacauan

Di Lebanon, situasi berubah mencekam setelah gelombang serangan udara Israel memicu kepanikan besar. Ribuan warga kocar-kacir meninggalkan rumah mereka menyusul peringatan evakuasi dari militer Israel. Konflik Israel dengan Hizbullah memperbesar kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka.

Militer Israel meminta warga di lebih dari 50 kota dan desa di Lebanon selatan serta timur untuk segera menjauh minimal 1.000 meter dari tempat tinggal mereka. Eksodus massal terjadi dari Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.

Jalan raya menuju Beirut macet total, dengan mobil dan sepeda motor berjejer panjang. Sebagian warga bahkan melarikan diri dengan berjalan kaki, membawa tas seadanya. Puluhan sekolah dibuka sebagai tempat penampungan darurat.

Kronologi Eskalasi: Balas Dendam hingga Serangan Balasan

Eskalasi konflik bermula ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket dan drone ke Israel utara sebagai “balas dendam” atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS–Israel di Teheran. Sebagai respons, Israel menggempur sejumlah titik strategis di Lebanon melalui serangan udara besar-besaran.

Target serangan meliputi Dahiyeh di pinggiran selatan Beirut, sejumlah kota di Lebanon selatan, hingga Lembah Beqaa di bagian timur negara itu. Pemerintah Israel menyatakan serangan tersebut menyasar fasilitas dan personil Hizbullah yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata tahun 2024.

Namun nyatanya dampak serangan itu cukup besar. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka. Situasi ini mengingatkan kembali pada perang besar tahun 2024 yang menyebabkan kehancuran luas di Lebanon dan menewaskan banyak warga sipil.

Konflik tersebut juga melemahkan struktur komando Hizbullah, termasuk tewasnya pemimpin lamanya, Hassan Nasrallah. Dengan meningkatnya intensitas serangan udara, munculnya gelombang pengungsian warga sipil, serta ancaman langsung terhadap pimpinan Hizbullah, risiko perang terbuka di kawasan semakin besar.

Lebanon kini kembali berada di persimpangan krisis antara menjaga stabilitas dalam negeri atau terseret lebih jauh ke dalam pusaran konflik Timur Tengah yang kian memanas.






Pos terkait