Legenda di Balik Ritual Ceprotan Pacitan, Pelemparan Kelapa yang Diharapkan Bawa Rezeki

Aa1xlt4d
Aa1xlt4d

Upacara Adat Ceprotan di Desa Sekar, Pacitan

Upacara Adat Ceprotan digelar setiap tahun di Desa Sekar, Pacitan, sebagai bagian dari ritual bersih desa yang diyakini membawa keselamatan dan kemakmuran. Acara ini dilaksanakan setiap bulan Longkang pada hari Senin Kliwon, dengan makna simbolis yang dalam. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menarik perhatian wisatawan mancanegara serta meningkatkan pendapatan warga melalui penjualan makanan khas selama acara berlangsung.

Ritual Bersih Desa yang Bersejarah

Tradisi Ceprotan memiliki akar sejarah yang kuat, terkait dengan legenda Dewi Sekartaji dan Ki Godeg. Ada dua versi cerita yang berkembang mengenai asal usul tradisi ini. Versi pertama menyebutkan bahwa Desa Sekar dulunya adalah kawasan hutan tandus yang dibuka oleh Ki Godeg, sosok sakti mandraguna. Ia bertemu dengan Dewi Sekartaji yang sedang mencari kekasihnya, Panji Asmorobangun. Saat Dewi Sekartaji meminta air kelapa muda, Ki Godeg menggunakan kesaktiannya untuk mendapatkan cengkir dari tempat jauh. Setelah minum, sisa air kelapa tersebut ditumpahkan di tanah, yang kemudian menjadi sumber mata air Sumber Sekar.

Sementara itu, versi kedua menyebutkan bahwa Dewi Sekartaji dan Ki Godeg adalah pasangan suami istri yang mendirikan padepokan untuk mengembangkan ilmu. Setiap calon murid harus membawa perlengkapan seperti cengkir, beras pari, beras ketan, mori, pitik putih, kembang setaman, dan menyan. Perlengkapan ini memiliki makna simbolis, seperti cengkir yang melambangkan pikiran yang lurus dan beras ketan yang menggambarkan keteguhan hati.

Prosesi Ceprotan yang Penuh Makna

Prosesi Ceprotan dimulai dengan arak-arakan kelapa muda menuju lokasi upacara, biasanya di tanah lapang desa. Kelapa yang telah dikuliti dan direndam beberapa hari diletakkan dalam keranjang bambu dan dibawa para pemuda. Sebelum ritual inti, tetua adat membacakan doa. Kemudian, acara dilanjutkan dengan sendratari yang mengisahkan pertemuan Ki Godeg dan Dewi Sekartaji.

Setelah itu, para pemuda dibagi menjadi dua kubu yang saling berhadapan. Di tengah arena diletakkan ayam panggang utuh (ingkung). Ketika aba-aba dimulai, kedua kubu saling melempar kelapa muda. Warga yang tubuhnya terkena lemparan hingga kelapa pecah dan airnya membasahi badan dipercaya akan memperoleh rezeki melimpah. Usai seluruh kelapa habis dilempar, acara ditutup dengan doa dan pembagian sesaji untuk dimakan bersama sebagai simbol kebersamaan.

Makna Simbolik di Balik Ceprotan

Kelapa muda atau cengkir menjadi elemen utama dalam ritual ini. Dalam filosofi Jawa, cengkir dimaknai sebagai “kencenge pikir” atau keteguhan berpikir. Pesan tersebut merujuk pada ajaran agar pemuda mengandalkan akal dan usaha dalam mencari sandang pangan. Sementara ayam panggang (ingkung) di tengah arena melambangkan rezeki yang harus diupayakan.

Tradisi saling melempar kelapa bukan sekadar permainan, melainkan simbol kerja sama dan semangat gotong royong dalam menggapai kesejahteraan. Nilai utama dari Ceprotan bukan hanya ritual adat, melainkan juga mempererat tali silaturahmi, rasa kekeluargaan, dan kebersamaan antarwarga.

Menarik Wisatawan dan Meningkatkan Ekonomi

Seiring perkembangan zaman, Ceprotan tak lagi sekadar tradisi lokal, tetapi juga menjadi agenda budaya yang menarik perhatian wisatawan, bahkan mancanegara. Beberapa wisatawan dari negara seperti Jerman, Cekoslovakia, Jepang, Belanda, Taiwan hingga Inggris pernah menghadiri acara ini.

Tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, Ceprotan juga menggerakkan roda ekonomi warga. Momentum ini dimanfaatkan masyarakat untuk berjualan aneka makanan khas seperti pecel, lontong, legender, hingga kolong. Bahkan, salah satu warga mengaku mampu meraup keuntungan hingga tiga sampai empat kali lipat saat gelaran Ceprotan berlangsung.

Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Upacara Adat Ceprotan menjadi bukti tradisi dan mitos masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Meski berkembang dengan sentuhan pariwisata, esensi ritual bersih desa tetap dijaga. Di tengah arus modernisasi, warga Desa Sekar terus merawat Ceprotan sebagai warisan leluhur sekaligus identitas budaya yang membanggakan Kabupaten Pacitan.



Pos terkait