JAKARTA – Perusahaan pengembang properti, PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK), berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp215,8 miliar pada tahun 2025 setelah mengalami kerugian pada tahun sebelumnya, yaitu 2024.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis hingga akhir Desember 2025, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp215,76 miliar. Capaian ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kerugian usaha yang tercatat senilai Rp1,61 triliun pada 2024.
Selain itu, pendapatan perusahaan juga meningkat signifikan sebesar 132,5% menjadi Rp4,52 triliun pada 2025 secara tahunan, dibandingkan dengan pendapatan pada 2024 yang hanya sebesar Rp1,94 triliun.
Kontribusi terbesar dari penjualan berasal dari rumah hunian yang mencapai Rp2,99 triliun. Diikuti oleh segmen pendapatan pengelolaan kota sebesar Rp474,48 miliar, penjualan tanah industri sebesar Rp349,69 miliar, serta pendapatan sewa dan lainnya sebesar Rp151,58 miliar.
Meskipun pendapatan meningkat, beban pokok pendapatan juga naik menjadi Rp3,73 triliun pada 2025, dibandingkan dengan beban pada 2024 yang hanya sebesar Rp1,32 triliun.
Kinerja positif pada 2025 menghasilkan laba per saham (EPS) yang lebih baik, yaitu sebesar Rp48 per lembar, dibandingkan dengan EPS negatif sebesar Rp602 per lembar pada 2024.
Dari sisi neraca, total aset perseroan turun dari Rp13,61 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp11,17 triliun pada akhir 2025. Penurunan terjadi pada pos kas dan setara kas yang turun dari Rp675 miliar menjadi Rp247,5 miliar, serta persediaan yang menurun dari Rp10,41 triliun menjadi Rp8,40 triliun.
Total liabilitas LPCK juga mengalami penurunan sebesar 41%, dari Rp7,64 triliun menjadi Rp4,50 triliun. Namun, arus kas dari aktivitas operasional masih dalam kondisi negatif sebesar Rp928,9 miliar.
Penurunan arus kas tersebut menyebabkan saldo kas dan setara kas pada 2025 hanya mencapai Rp247,5 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perusahaan berhasil membukukan laba bersih, pengelolaan arus kas tetap menjadi tantangan utama untuk menjaga stabilitas keuangan.





