JAKARTA – Kinerja keuangan PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) sepanjang tahun 2025 menunjukkan penurunan yang signifikan di berbagai lini keuangan, termasuk pendapatan dan laba. Hal ini menjadi perhatian utama bagi pemangku kepentingan mengingat dampaknya terhadap stabilitas bisnis perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi yang dirilis, pendapatan LPKR pada 2025 mencapai Rp9,03 triliun. Angka ini menurun tajam sebesar 21,5% dibandingkan dengan pendapatan pada 2024 yang sebesar Rp11,50 triliun. Penurunan ini terjadi karena beberapa faktor eksternal dan internal yang memengaruhi operasional perusahaan.
Setelah dikurangi pajak final, pendapatan neto perseroan turun menjadi Rp8,84 triliun, atau menurun sebesar 22,1% secara tahunan dari Rp11,35 triliun pada 2024. Penurunan pendapatan ini juga berdampak pada profitabilitas perusahaan. Laba bruto LPKR anjlok sebesar 37,8% dari Rp4,79 triliun menjadi Rp2,98 triliun. Di tingkat operasional, laba usaha hanya tersisa Rp655,3 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan laba usaha pada 2024 yang mencapai Rp20,28 triliun.
Pada 2024, laba usaha yang tinggi tersebut didukung oleh penghasilan lain-lain yang bersifat tidak berulang sebesar Rp21,6 triliun. Tanpa komponen tersebut, performa LPKR pada 2025 menunjukkan pelemahan yang nyata. Tekanan paling besar terlihat pada laba sebelum pajak yang ambles dari Rp19,09 triliun menjadi hanya Rp670,2 miliar. Akibatnya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga merosot drastis dari Rp18,75 triliun menjadi Rp469,5 miliar.
Dari sisi neraca, total aset konsolidasi LPKR turun sebesar 8,4% menjadi Rp49,25 triliun per akhir 2025, turun dari Rp53,78 triliun pada akhir 2024. Penurunan paling tajam terjadi pada kas dan setara kas yang menyusut menjadi Rp1,96 triliun, dari sebelumnya Rp5,33 triliun. Sementara itu, liabilitas turun dari Rp22,84 triliun pada 2024 menjadi Rp18,20 triliun. Dengan penurunan liabilitas tersebut, total ekuitas perseroan tetap meningkat tipis menjadi Rp31,05 triliun dari sebelumnya Rp30,95 triliun.
CEO LPKR, John Riady, menjelaskan bahwa pendapatan segmen real estate selama tahun lalu mencapai Rp7,67 triliun. Sementara itu, segmen gaya hidup yang terdiri dari bisnis mal dan hotel membukukan pendapatan Rp1,37 triliun. Ia menekankan bahwa fokus utama perseroan saat ini adalah pada bisnis inti real estate dan lifestyle, serta peningkatan efisiensi berkelanjutan dan pengelolaan keuangan yang prudent melalui pengendalian biaya dan upaya pengurangan hutang.
“Inisiatif pengurangan hutang juga secara signifikan memperkuat struktur permodalan perseroan,” ujar John melalui keterangan resmi.
Dia menambahkan bahwa pada segmen real estate, pra penjualan tercatat Rp5,32 triliun atau mencapai 85% dari target tahunan. Kinerja ini didorong oleh permintaan berkelanjutan untuk rumah tapak segmen terjangkau maupun premium di berbagai wilayah, yang menyumbang 72% dari total pra penjualan. Perseroan berstrategi menyasar perumahan terjangkau dengan penawaran di segmen premium untuk mendorong kinerja pra penjualan yang kuat.





