Lippo Karawaci (LPKR) Alami Penurunan Pendapatan 21,48% pada 2025



JAKARTA – Kinerja PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) di tahun 2025 tidak sepenuhnya memuaskan. Perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp9,03 triliun selama tahun tersebut. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 21,48% secara year-on-year (yoy) dibandingkan pendapatan pada tahun 2024 yang mencapai Rp11,50 triliun.

Meski demikian, LPKR berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp470 miliar. Laba bersih setelah pajak meningkat signifikan sebesar 57% menjadi Rp630 miliar. Di akhir tahun 2025, perusahaan juga memiliki posisi kas sebesar Rp1,96 triliun.

CEO LPKR John Riady menjelaskan bahwa capaian kinerja ini didorong oleh fokus perseroan terhadap bisnis inti, yaitu real estate dan lifestyle. Selain itu, LPKR juga berupaya meningkatkan efisiensi berkelanjutan serta memperkuat keuangan melalui pengendalian biaya dan upaya pengurangan utang.

Kinerja Segmen Real Estate

Di segmen real estate, pra-penjualan (marketing sales) sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp5,32 triliun atau mencapai 85% dari target tahunan. Penurunan ini disebabkan oleh permintaan berkelanjutan untuk rumah tapak di segmen terjangkau maupun premium di berbagai wilayah. Sekitar 72% dari total pra penjualan berasal dari pembeli rumah pertama (first-time homebuyers) dan end-user.

Pencapaian ini juga didukung oleh peluncuran Park Serpong fase 4–6 serta pengenalan produk Treetops Livin. Proyek-proyek baru ini berhasil menjawab permintaan dari segmen mass-market dan menengah, sekaligus memperkuat posisi LPKR di pasar rumah tapak.

Pendapatan segmen real estate selama tahun lalu mencapai Rp7,67 triliun atau tumbuh 52% yoy. Pertumbuhan ini didorong oleh serah terima unit residensial dan komersial yang tepat waktu. EBITDA tercatat sebesar Rp1,15 triliun, yang didukung oleh efisiensi operasional dan eksekusi yang efektif.

Kinerja Segmen Gaya Hidup

Segmen gaya hidup, yang terdiri dari bisnis mal dan hotel, membukukan pendapatan sebesar Rp1,37 triliun pada FY25. Laba kotor meningkat 6% menjadi Rp1,03 triliun, sementara EBITDA naik 16% YoY menjadi Rp448 miliar. Peningkatan ini didukung oleh peningkatan sewa tenant, pemulihan operasional yang berkelanjutan, serta optimalisasi biaya.

Strategi dan Tantangan

John Riady menegaskan bahwa strategi perumahan terjangkau yang dilengkapi dengan penawaran di segmen premium telah mendorong kinerja pra penjualan yang kuat. Selain itu, inisiatif pengurangan hutang juga secara signifikan memperkuat struktur permodalan perseroan.

Dengan fokus pada bisnis inti dan penguatan keuangan, LPKR berharap dapat terus menghadapi tantangan di masa depan dengan lebih baik. Perusahaan juga akan terus berupaya meningkatkan efisiensi dan memperluas pangsa pasar di berbagai segmen industri.

Pos terkait