Lonjakan Harga Emas Akibat Konflik Timur Tengah, Target Pendek US$ 5.750

Aa1kczfk 2
Aa1kczfk 2

.CO.ID – JAKARTA

Perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu ketidakpastian di pasar global, terutama dalam hal pergerakan harga emas. Kondisi ini berpotensi mengubah tren pasar emas secara fundamental, dengan berbagai faktor geopolitik yang menjadi pemicu utamanya.

Salah satu area yang menjadi fokus investor adalah Selat Hormuz, yang merupakan jalur perdagangan energi penting bagi dunia. Penutupan atau pembatasan akses ke selat ini dapat mengganggu alur perdagangan global, sekaligus meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap inflasi akibat kenaikan harga energi.

Nanang Wahyudin, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, menjelaskan bahwa efek penutupan Selat Hormuz tidak hanya sekadar “riak kecil”, tetapi lebih dari itu. Ia menilai bahwa peristiwa ini bisa menjadi pengubah tren (trend shifter) yang sangat signifikan bagi harga emas.

“Karena Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia, penutupannya menciptakan efek domino yang sangat menguntungkan bagi harga emas,” ujar Nanang. Menurutnya, situasi ini bukan hanya tentang minyak dan gas, tetapi juga ancaman perang terbuka di kawasan Timur Tengah. Dalam kondisi ketidakpastian ekstrem, investor institusi cenderung beralih dari aset berisiko seperti saham ke emas.

Hal ini berpotensi menciptakan permintaan masif terhadap emas, baik dalam bentuk fisik maupun derivatif. Nanang menyatakan bahwa prospek emas untuk jangka pendek tetap sangat bullish.

Menurut data dari Trading Economics pada Senin (2/3), harga emas di pasar spot mencapai US$ 5.410 per ons troi, naik 2,50% harian dan 9,50% dalam sebulan terakhir. Setelah menembus level US$ 5.400 per ons troi, target teknis berikutnya berada di kisaran US$ 5.650–US$ 5.800, berdasarkan ekstensi Fibonacci.

Tren bullish emas diperkirakan akan bertahan selama beberapa faktor kunci tetap ada. Jika belum ada gencatan senjata atau jaminan keamanan navigasi di Selat Hormuz, emas akan terus diburu sebagai aset aman (safe haven). Selain itu, jika krisis ini memicu resesi global, bank sentral seperti The Fed mungkin terpaksa menghentikan kenaikan suku bunga atau bahkan menurunkannya untuk menjaga perekonomian.

Selain faktor geopolitik, tahun 2026 juga sering menjadi tahun transisi politik di berbagai negara. Ketidakstabilan domestik yang dikombinasikan dengan krisis eksternal akan memperpanjang posisi emas sebagai raja aset. Nanang memproyeksikan bahwa harga emas pada semester pertama 2026 akan mengalami kenaikan signifikan, didorong oleh ketegangan geopolitik ekstrem dan kebijakan moneter global yang mendukung aset safe haven.

Dengan sisi fundamental saat ini, Nanang memprediksi bahwa harga emas global bisa menembus rekor tertinggi baru (ATH) dari US$ 5.597 menuju US$ 5.650, bahkan mencapai US$ 5.750 per ons troi dalam enam bulan pertama tahun ini. Ia juga memproyeksikan tren jangka panjang tahun 2026 tetap bullish menuju target US$ 5.000–US$ 6.000 per ons.

Pos terkait