Lyn Alden: Bitcoin Bisa Jadi Pilihan Jika Saham AI Terlalu Mahal

Aa1dqtlx
Aa1dqtlx

Kenaikan Harga Bitcoin Dibandingkan Saham AI

Menurut ekonom makro Lyn Alden, kenaikan harga Bitcoin bisa dipicu oleh rotasi dana dari saham kecerdasan buatan (AI) yang dinilai terlalu mahal. Dalam wawancara di podcast Coin Stories bersama Natalie Brunell, Alden menyatakan bahwa saham-saham AI mungkin mencapai titik jenuh ketika valuasinya dianggap “terlalu besar secara tidak masuk akal” oleh investor.

“Akan ada saatnya saham AI mencapai puncak dan sulit untuk naik lebih tinggi secara realistis,” ujar Alden dilansir dari laman Cointelegraph pada Sabtu (21/2/2026).

Ketika suatu aset dinilai terlalu mahal dan ruang kenaikan terbatas, investor biasanya memindahkan modal ke aset lain yang memiliki potensi kenaikan lebih besar. Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpeluang menjadi tujuan rotasi dana.

Saat ini, harga Bitcoin berada jauh di bawah rekor tertingginya dan masih dalam fase konsolidasi, sehingga dinilai berpotensi diuntungkan jika terjadi pergeseran alokasi modal. Berdasarkan data Coinmarketcap pukul 09.44 WIB, harga Bitcoin berada di level US$68.014 atau naik 1,10% dalam 24 jam terakhir dan turun 1,25% sepekan.

Nvidia Jadi Sorotan

Sejumlah analis mulai mempertanyakan apakah saham AI terbesar masih mampu mempertahankan momentumnya pada 2026. Salah satu contohnya adalah saham Nvidia (NVDA), produsen chip GPU yang menjadi pemain utama dalam pembangunan infrastruktur AI. Saham Nvidia mencatat kenaikan sekitar 35% dalam 12 bulan terakhir.

Jason Ware, chief investment officer Albion Financial Group, mengatakan bahwa meskipun Nvidia mungkin tetap membukukan kuartal yang kuat, pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan tersebut cukup untuk terus mendorong harga saham lebih tinggi. Menurut Ware, Nvidia saat ini menjadi perusahaan dan saham paling penting di pasar Amerika Serikat karena dominasi dalam ekosistem AI.

Bitcoin Butuh “Permintaan Marjinal”

Meski bersaing dengan saham AI dalam memperebutkan aliran modal, Alden menilai Bitcoin tidak membutuhkan gelombang dana besar untuk kembali naik. “Hanya dibutuhkan sedikit tambahan permintaan marjinal untuk mendorong harga,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemegang jangka panjang berperan sebagai “penopang dasar harga” karena koin cenderung berpindah dari tangan spekulan jangka pendek ke investor yang lebih kuat memegang aset tersebut.

Namun, Alden tidak memperkirakan lonjakan harga cepat dalam waktu dekat. “Bitcoin jarang membentuk dasar harga berbentuk V, kecuali dalam peristiwa luar biasa seperti stimulus COVID,” katanya.

Biasanya, harga mencapai titik rendah lalu bergerak mendatar dalam periode cukup lama sebelum kembali naik. Menurut Alden, pasar saat ini masih berada dalam fase “grinding” atau bergerak perlahan, dengan kemungkinan fluktuasi lebih lanjut sebelum tren naik berikutnya terbentuk.

Pos terkait