Jorge Lorenzo, mantan pembalap MotoGP yang pernah meraih gelar juara dunia tiga kali, hadir sepanjang akhir pekan balapan MotoGP Thailand 2026. Dalam kesempatan ini, ia berperan sebagai pelatih performa untuk pembalap Red Bull KTM Tech3, Maverick Vinales.
Lorenzo juga membagikan pendapatnya mengenai beberapa kejadian penting selama balapan pembuka musim ini. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah keputusan Race Direction yang dianggap kontroversial dan masih menjadi bahan perdebatan.
Pengawas balapan memberikan hukuman penalti kepada Marc Marquez, pembalap Ducati Lenovo, dalam balapan Sprint. Marquez dihukum turun satu posisi setelah dianggap melakukan manuver berbahaya terhadap pembalap Red Bull KTM, Pedro Acosta. Penalti diberikan pada lap terakhir, bahkan hanya beberapa detik sebelum memasuki tikungan terakhir Sirkuit Buriram, Thailand.
Keputusan tersebut dinilai tidak adil oleh banyak pihak. Salah satu yang paling keras membantah adalah manajer Ducati Lenovo, Davide Tardozzi. Ia menyatakan bahwa hukuman itu tidak benar karena Marquez tidak menyentuh Acosta dan tetap berada di lintasan.
Sementara itu, Lorenzo menyampaikan pandangannya tentang penalti tersebut. Menurutnya, keputusan Race Direction sudah benar meskipun ia tidak melihat intervensi langsung dari mereka.
“Dua ayam jantan, baik dari segi karakter maupun keberanian. Itu adalah pertunjukan yang hebat,” kata Lorenzo kepada GPOne, dilansir via Motosan. “Pada akhirnya, peraturan memberikan kemenangan kepada Acosta.”
Ia menegaskan bahwa pengawas balapan tidak boleh mendorong pembalap lain keluar dari lintasan. Meski begitu, Lorenzo secara tak langsung meminta maaf atas pendapatnya dengan tetap menghormati Marc Marquez.
“Saya sangat menghormati Marc, bagi saya, dia masih yang terbaik, tapi beberapa manuver seharusnya dikenai sanksi,” ujar Lorenzo.
Selain itu, Lorenzo juga memuji kinerja Aprilia yang menunjukkan kekuatan dominan sepanjang akhir pekan di Buriram.
“Aprilia sangat kompetitif dan mengganggu dominasi Ducati,” katanya. “Di Buriram, Aprilia sepertinya memiliki keunggulan tambahan, terutama dalam hal handling, motornya rendah, kompak, sangat kaku, dan bisa miring dengan cepat.”
“Di tikungan, mungkin ini yang terbaik. Namun, Ducati sangat seimbang, pengereman, akselerasi, mesin kuat di setiap aspek,” jelasnya.
Selain itu, Lorenzo juga mengkritik sikap Fabio Quartararo terhadap timnya sendiri. Kritik Quartararo terhadap Yamaha dianggap terlalu keras dan tidak etis, terlepas dari fakta bahwa ia masih menerima gaji dari pabrikan Jepang tersebut.
“Tidak mungkin mengubah filosofi setelah 20 tahun dan langsung kompetitif,” kata Lorenzo mengenai kritik Quartararo soal Yamaha M1 V4. “Mereka akan mengorbankan musim ini dan mungkin musim depan juga untuk menjadi lebih kuat dalam 5-10 tahun ke depan.”
“Yang saya tidak suka adalah kritik yang terlalu keras dari para pembalap, terutama dari Fabio (Quartararo). Yamaha ada di sini untuk menjual motor, dan seseorang yang mendapatkan banyak uang tidak boleh berbicara buruk tentang produk,” ujarnya.





