Inovasi Transportasi Digital di Bali dengan TRIHITA
Bali kini menghadirkan inovasi besar dalam dunia transportasi digital melalui program TRIHITA (Transportasi Hijau Terintegrasi Berbasis Desa Adat). Program ini hadir sejalan dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” yang bertujuan untuk menciptakan keharmonisan antara teknologi modern dan nilai-nilai budaya lokal. TRIHITA bukan hanya sekadar layanan transportasi, tetapi sebuah ekosistem digital yang dirancang untuk memperkuat perekonomian masyarakat desa adat.
Visi dan Tujuan TRIHITA
TRIHITA lahir sebagai jawaban atas tantangan kemacetan yang terus-menerus menghambat perkembangan Bali. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk melindungi pelaku usaha lokal dari dominasi perusahaan asing. Ketua Dewan Pembina Yayasan Tri Hita Bali Dwipa sekaligus Founder PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, S.H., M.Si., menjelaskan bahwa TRIHITA dirancang untuk membangun kerja sama lintas sektor yang lebih terpadu.
Dalam audiensi terbaru di Kantor Dinas Perhubungan Bali, Sudiana menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga daerah. Menurutnya, salah satu kelemahan OPD selama ini adalah ego sektoral yang menyebabkan kurangnya koordinasi. Oleh karena itu, Pergub yang akan diterbitkan harus mampu mendukung pemberdayaan ekonomi desa secara umum.
Integrasi Teknologi dan Budaya Lokal
Langkah strategis ini diperkuat oleh arahan Gubernur Bali Wayan Koster yang menjadikan Desa Adat sebagai mitra strategis dalam pengawasan wilayah. TRIHITA dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman berperforma tinggi “Rust”, teknologi yang juga digunakan oleh platform global seperti Grab. Aplikasi ini dirancang untuk memberikan stabilitas dan kecepatan tinggi.
Bekerja sama dengan tim developer Lyxa Dev serta pelaku usaha transportasi lokal seperti Agustinus Winjaya, TRIHITA ditargetkan menjadi Superapp regional dan nasional. Direktur Lyxa Dev menyatakan optimisme luar biasa terhadap masa depan aplikasi ini. Menurutnya, TRIHITA memiliki potensi besar untuk menjadi semangat baru bagi masyarakat Bali.
Tiga Model Utama TRIHITA
TRIHITA mengintegrasikan tiga model utama:
- TRIHITA Desa: Desa Adat melalui BUPDA menjadi subjek utama pengelolaan.
- TRIHITA Pura: Kerja sama dengan Bandara Ngurah Rai.
- TRIHITA Bahari: Terintegrasi dengan PT Pelindo untuk kawasan pelabuhan dan pesisir.
Sistem ini didukung oleh ekosistem pembiayaan lokal yang kuat, termasuk Bank BPD Bali, LPD, dan PT Bali Kerthi Development Fund Ventura (BDF), untuk memastikan keberlanjutan bagi mitra pengemudi dan koperasi lokal.
Fitur Lengkap dan Tujuan Jangka Panjang
TRIHITA dilengkapi dengan fitur-fitur lengkap mulai dari E-wallet (Trihita Pay), pemesanan makanan, hingga reservasi hotel dan tiket wisata. Dengan fitur-fitur ini, TRIHITA siap menjadi pilar utama pembangunan Bali Era Baru yang harmonis dan berkeadilan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, S.T., M.A.B., menyatakan kesiapan instansinya untuk mengawal implementasi TRIHITA dari sisi regulasi. Menurutnya, gagasan ini sesuai dengan arahan gubernur. Instansi akan menindaklanjuti secara teknis agar sistem yang dibangun tidak bertabrakan dengan ketentuan yang ada.
Kolaborasi dan Keberlanjutan
Keberhasilan TRIHITA tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kepatuhan terhadap regulasi dan kesiapan bisnis. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menghadirkan solusi yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat Bali.





