Penyesalan dan Tekanan Mental yang Menghancurkan
Raihan Mufazzar, seorang mahasiswa yang menjadi tersangka pembacokan terhadap salah satu temannya di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, kini sedang menjalani proses hukum. Dalam tahanan, ia menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam atas perbuatannya. Raihan juga menyatakan keinginannya untuk melaksanakan salat taubat dan membaca buku-buku agama selama masa penahanannya.
Pada sesi pendampingan psikologi di Polresta Pekanbaru, Senin (2/3/2026), terungkap bahwa Raihan sempat mengalami tekanan mental yang sangat berat setelah melakukan aksi tersebut. Ia bahkan sempat memikirkan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, niat itu akhirnya berhasil diredam dengan bantuan dari tim psikolog.
Kondisi Kejiwaan dan Motif Perbuatan
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, menjelaskan bahwa kondisi kejiwaan Raihan sedang dievaluasi oleh tim Bagian Psikologi Biro SDM Polda Riau. Tujuannya adalah untuk memahami motif dan dinamika emosinya secara komprehensif. Hasil asesmen menunjukkan bahwa Raihan memiliki kepribadian yang tertutup atau introvert.
Menurut Pandra, Raihan tidak pernah merasakan kehangatan dalam lingkungan keluarganya. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan. Hal ini membuat Raihan cenderung memendam masalah sendiri tanpa mencari solusi. Ia menyampaikan bahwa jika ada masalah, seharusnya ia bercerita dan mencari jalan keluar, bukan memendamnya sendiri.
Masalah pribadi Raihan memuncak saat hubungannya dengan korban, Farradhilla Ayu Pramesti (23), merenggang pada akhir 2025. Meski keduanya tidak berpacaran, mereka diketahui memiliki kedekatan khusus yang kemudian memicu konflik emosional hingga berujung pada aksi pembacokan di lantai dua Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska.
Ancaman Hukuman dan Alat yang Digunakan
Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah, mengungkapkan bahwa Raihan terancam hukuman hingga 17 tahun penjara. Pasal-pasal yang dikenakan antara lain perencanaan pembunuhan dan penganiayaan berat. Anggi juga menjelaskan bahwa pelaku sengaja datang dari rumahnya untuk membunuh korban dengan membawa dua senjata tajam, yaitu kapak dan parang.
Motif sementara yang muncul adalah karena cinta ditolak. Pelaku sengaja datang dari rumah untuk menarget korban. Menurut informasi yang diperoleh, kapak digunakan sebagai alat utama dalam aksi tersebut.
Kondisi Korban Setelah Pembacokan
Korban dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru untuk mendapatkan penanganan medis, kemudian dirujuk ke RSUD Arifin Ahmad. AKP Anggi Rian Diansyah menyampaikan bahwa korban menjalani operasi pada Kamis malam. Saat ini, korban belum bisa diberikan keterangan karena masih dalam proses pemulihan.
Korban mengalami luka pada pergelangan tangan yang sebelumnya dikabarkan patah akibat serangan. Selain itu, korban juga mengalami luka di bagian kepala. Tim medis telah memberikan perawatan intensif untuk memastikan kondisi kesehatannya pulih.





