Mahasiswa UTU Serahkan Alat Peringatan Banjir ke Desa Gajah Ayee Pidie

Atlantas Polres Pidie Jaya Bersama Rela 1
Atlantas Polres Pidie Jaya Bersama Rela 1

Program Mahasiswa Berdampak: Pemanfaatan Teknologi IoT untuk Mitigasi Bencana Banjir

Sejumlah mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh Barat, telah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam rangka Program Mahasiswa Berdampak. Kegiatan ini bertujuan untuk pemulihan bencana di wilayah Sumatera, khususnya di Desa Gajah Ayee, Kabupaten Pidie.

Penyerahan alat peringatan dini banjir berbasis Internet of Things (IoT) dilakukan kepada warga setempat. Alat ini dirancang dengan fitur-fitur canggih seperti sensor tinggi muka air, sistem notifikasi berupa sirine, serta pengiriman informasi melalui jaringan seluler. Tujuannya adalah memberikan peringatan lebih cepat bagi masyarakat agar dapat melakukan evakuasi mandiri atau menyelamatkan barang berharga.

Selain pemasangan alat tersebut, mahasiswa UTU juga melakukan berbagai kegiatan mitigasi bencana. Di antaranya adalah penanaman pohon di bantaran sungai untuk menahan abrasi, pemetaan titik rawan banjir dan jalur evakuasi, gotong royong pembersihan sungai, pengukuran tingkat pH air untuk konsumsi, serta sosialisasi pengelolaan lingkungan.

Ketua Tim Pengabdian, Delfian Masrura, MT, CRA, CRP, menjelaskan bahwa alat ini dirancang sederhana agar mudah dipelihara dan dapat dioperasikan langsung oleh perangkat desa. Ia juga menyebutkan bahwa pelatihan teknis telah diberikan kepada aparatur dan kelompok masyarakat.

Proses Pelaksanaan Program

Program ini melibatkan 50 mahasiswa dari tujuh program studi berbeda. Mereka bekerja sama dengan dosen pembimbing selama satu bulan penuh di lapangan. Tim pengabdian dipimpin oleh Delfian Masrura bersama anggota Fitry Hasdanita, ST, MT, dan Ir Arrazy Elba Ridha, SST, MT.

Kegiatan ini merupakan respons atas banjir yang kerap melanda Desa Gajah Ayee. Wilayah ini secara geografis berada di wilayah hilir sehingga rentan terdampak limpasan air dan kenaikan debit sungai secara tiba-tiba.

Seluruh kegiatan melibatkan kelompok PKK, petani, pemuda, dan aparatur gampong sebagai bentuk penguatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan desa. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, harapan besar tercipta kesadaran dan partisipasi dalam upaya mitigasi bencana.

Tanggapan dari Masyarakat dan Pemerintah

Setelah sebulan melakukan pengabdian, mahasiswa dilepas secara resmi oleh Keuchik Desa Gajah Ayee, Husaini. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa UTU. “Ini bukan hanya tentang alat, tetapi juga transfer pengetahuan dan kepedulian kepada masyarakat,” katanya.

Sekretaris Camat Pidie, Rangga Fadila, turut mengapresiasi dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Mahasiswa Berdampak. Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi hadir memberikan solusi konkret berbasis sains dan teknologi.

Program ini dinilai sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek penanganan perubahan iklim, inovasi dan infrastruktur, serta penguatan ketahanan terhadap bencana. Pendekatan berbasis IoT diharapkan menjadi solusi adaptif menghadapi meningkatnya intensitas curah hujan ekstrem.

Kegiatan Pendukung Mitigasi Bencana

Di luar pemasangan alat peringatan dini, mahasiswa UTU juga menjalankan sejumlah program pendukung mitigasi bencana. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:

  • Penanaman pohon di bantaran sungai untuk menahan abrasi.
  • Pemetaan titik rawan banjir dan jalur evakuasi.
  • Gotong royong pembersihan sungai.
  • Pengukuran tingkat pH air untuk konsumsi.
  • Sosialisasi pengelolaan lingkungan.

Semua kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok PKK, petani, pemuda, dan aparatur gampong. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan kelembagaan desa dalam menghadapi ancaman bencana.


Pos terkait