Situs Makam Orang Kayo Hitam, Tujuan Wisata Religi di Jambi
Situs makam Orang Kayo Hitam menjadi salah satu tujuan wisata religi yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Lokasinya berada di wilayah Tanjung Jabung Timur, Jambi, dan menjadi bagian penting dari identitas lokal. Tempat ini tidak hanya dikenal sebagai objek wisata bersejarah, tetapi juga menjadi daya tarik bagi para peziarah dan penggemar sejarah.
Kondisi geografis situs ini menambah keunikan. Terletak dekat aliran Sungai Batanghari, makam ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan situs-situs lain di daerah tersebut. Hal ini menjadikannya sebagai titik penting dalam perjalanan wisata Jambi dan menjadi salah satu tempat yang memiliki jejak sejarah kuat.
Meski memiliki nilai historis yang besar, beberapa faktor menyebabkan kawasan ini semakin sepi dari aktivitas peziarah. Salah satunya adalah endapan lumpur dari Sungai Batanghari yang sering menimbun area makam. Masyarakat setempat harus membersihkannya kembali saat musim panas. Selain itu, kondisi jalan provinsi yang rusak parah, terutama pada musim hujan, juga menjadi hambatan utama bagi pengunjung.
Di dalam satu bangunan, terdapat empat makam yang menjadi pusat perhatian. Keempatnya adalah makam Orang Kayo Hitam, makam istrinya Puteri Mayang Mangurai, makam kucing peliharaan, serta makam Datuk Daur yang pernah menjadi juru kunci. Setiap makam memiliki cerita dan makna tersendiri yang berkaitan dengan sejarah daerah.
Ismail, penjaga generasi kini, menjelaskan bahwa panjang makam Orang Kayo Hitam mencapai 4,8 meter. Tokoh ini dikenal sebagai Raja Melayu Jambi putra dari Datuk Paduko Berhalo, yang diperkirakan wafat pada abad ke-15. Ia dikenal sebagai sosok pemberani dan memiliki kemampuan yang dihormati oleh masyarakat setempat.
Setiap tahun, situs ini didatungi ratusan peziarah dan menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Namun, jumlah kunjungan mengalami penurunan selama bulan puasa. Biasanya, angka kunjungan kembali meningkat setelah Hari Raya Idulfitri.
Selain kondisi jalan yang buruk, jarak tempuh yang jauh juga membuat banyak peziarah enggan datang melalui jalur darat. Sebagian besar pengunjung memilih menggunakan transportasi air untuk mencapai kawasan makam.
Ismail berharap pemerintah provinsi dapat segera memperbaiki akses jalan menuju Kecamatan Berbak agar kunjungan ke situs sejarah ini kembali bergeliat. Ia meyakini bahwa perbaikan jalur darat akan membuka kembali peluang besar bagi berkembangnya wisata religi di kawasan tersebut.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kunjungan ke Situs Makam Orang Kayo Hitam
-
Kondisi jalan yang rusak:
Jalur provinsi yang rusak parah, terutama saat musim hujan, menjadi penghalang utama bagi pengunjung. Kondisi ini membuat banyak orang enggan melakukan perjalanan darat ke lokasi makam. -
Endapan lumpur dari Sungai Batanghari:
Endapan lumpur sering kali menimbun area makam, sehingga masyarakat setempat harus membersihkannya kembali saat musim panas. -
Jarak tempuh yang jauh:
Jarak yang jauh dan sulitnya akses jalan membuat sebagian besar pengunjung memilih transportasi air untuk mencapai kawasan makam. -
Perubahan pola kunjungan:
Jumlah kunjungan cenderung menurun selama bulan puasa, namun kembali meningkat setelah Hari Raya Idulfitri.





