Pentingnya Ibadah Sosial dalam Membangun Ketaqwaan
Dalam Alquran, perintah puasa disebutkan dengan kalimat “la’allakum tattaqun” yang berarti agar kalian semua bertakwa. Pertanyaannya adalah, bagaimana sebenarnya makna takwa itu? Takwa bukan hanya terbatas pada ibadah spiritual seperti puasa, shalat, atau zakat, tetapi juga mencakup ibadah sosial yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pada Surat Al-An’am ayat 153, kita menemukan bahwa ayat ini ditutup dengan kata “la’allakum tattaqun”. Dalam penjelasan Ustaz Muhammad Soim, pengurus Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya, ayat-ayat tersebut menjelaskan wasiat-wasiat Allah SWT yang bertujuan membangun masyarakat insani yang sempurna. Wasiat tersebut melibatkan aspek ta’awun (saling tolong-menolong) dan mawaddah (sikap lemah lembut), serta mencegah keburukan dan menjaga masyarakat, termasuk orang-orang yang lemah.
Takwa dalam Islam tidak hanya terkait agama, tetapi juga berkaitan dengan kemanusiaan, bahkan dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan. Oleh karena itu, membangun masyarakat yang manusiawi dan sempurna, serta saling tolong-menolong antarmanusia, merupakan bagian dari ketaqwaan.
Empat Pondasi Keharmonisan
Dalam kitab Hifdzul Wathan yang ditulis oleh Romo Kiai Muhammad Said, ditemukan empat fondasi penting dalam menjaga keharmonisan umat dan bangsa agar menjadi bangsa yang lebih baik. Berikut penjelasannya:
-
Menguatkan persatuan umat
Persatuan umat diwujudkan melalui saling bantu di tengah masyarakat dan bangsa. Hal ini sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW ketika berada di Kota Madinah. Beliau membuat perjanjian di antara masyarakatnya, melakukan ta’awun tanpa memandang suku maupun agama, serta menyatukan kelompok-kelompok yang ada pada masa itu. -
Memelihara ketenteraman dan keamanan
Menjaga ketenteraman dan keamanan umat, bangsa, dan masyarakat serta mengaplikasikan maslahat lima, yaitu menjaga agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Sebagai umat yang telah diberikan contoh oleh Rasulullah SAW, kita harus menjaga satu sama lain tanpa menyinggung, menyakiti, atau mencampuradukkan urusan keimanan satu dengan yang lain. -
Melaksanakan hal-hal yang lebih utama
Terus-menerus melaksanakan hal-hal yang lebih utama, baik, dan penting bagi umat, serta menyeluruh dalam kemaslahatan di segala aspek kehidupan. Pembaruan yang lebih baik, lebih penting, dan lebih menyeluruh untuk umat sangat penting, terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan. -
Gharsul mahabbatil wathan
Menanamkan cinta tanah air dalam setiap jiwa masyarakat dengan makna yang benar, sesuai tuntunan Islam. Cinta tanah air bukan hanya dimiliki oleh orang Islam saja, tetapi merupakan fitrah manusia yang dimiliki seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, Arab maupun non-Arab, putih maupun hitam.
Cinta Tanah Air dalam Perspektif Islam
Cinta tanah air tidak hanya milik orang Islam, tetapi merupakan fitrah manusia. Seperti yang dikatakan oleh ulama kontemporer Yusuf al-Qaradawi, “hubbul wathan syai’un maghrusun bin nufus”, artinya mencintai tanah air adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa. Pepatah atau syair yang sering digunakan adalah: “Engkau boleh berpindah-pindah cinta, engkau boleh memindahkan hatimu kepada siapa pun yang engkau inginkan, tetapi ingat, cinta sejati adalah milik yang pertama.”
Begitu pula, betapa banyak bumi yang engkau pijak dan tempati, tetapi kerinduanmu akan tetap milik tanah airmu, tanah kelahiranmu.
Kesimpulan
Dari ayat ini, salah satu pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa untuk menjadi orang yang bertakwa tidak hanya melalui ibadah spiritual, tetapi juga ibadah sosial. Ketika ibadah sosial itu dibentuk dan dimusyawarahkan dengan baik hingga menjadi sistem dalam kehidupan kenegaraan, maka itu menjadi tujuan yang mulia demi kemakmuran masyarakat, umat, dan bangsa.
Ini adalah salah satu nilai besar dalam Islam. Oleh karena itu, mari kita jaga persatuan, mari kita jaga momen-momen penting, serta saling menjaga satu sama lain. Mari kita berdoa kepada Allah SWT, semoga Indonesia ke depan menjadi negara yang lebih baik, lebih damai, dan sentosa.





