Manfaat puasa membangkitkan kesadaran dan memperkuat imajinasi spiritual

Puasa Spirit 2
Puasa Spirit 2

Menggali Kekuatan Imajinasi dalam Puasa

Salah satu hikmah dari puasa adalah melatih ketajaman nurani atau yang sering disebut sebagai kekuatan imajinasi spiritual. Hal ini dijelaskan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam tulisan kolom Mutiara Ramadan pada hari ke-13 Ramadan 1447H/2026 M.

Kekuatan imajinasi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kontemplasi, sehingga mampu menembus dan melewati batas-batas alam syahadah. Dengan demikian, seseorang dapat mengakses alam antara (alam barzakh), yaitu suatu alam yang berada di antara alam syahadah mutlak dan alam gaib mutlak.

Alam antara ini dikenal dengan istilah al-‘alam hayal menurut Imam Al-Gazali atau al-‘alam al-mitsal menurut Ibnu ‘Arabi. Istilah ini diterjemahkan sebagai imaginal world oleh William C. Chittick dalam bukunya Imaginal Worlds, sebuah karya yang sangat maju bagi mereka yang ingin mendalami dunia spiritual.

Kekuatan imajinasi yang cerdas ini membantu seseorang untuk mengakses alam mitsal. Jika seseorang memiliki kemampuan ini, maka ia sudah mampu mencapai tahap mukasyafah, yaitu penyingkapan hijab yang berlapis-lapis di dalam dirinya.

Syarat Utama untuk Mencapai Tahap Mukasyafah

Syarat utama bagi seseorang yang ingin mengakses tahap ini adalah pertama-tama mampu menaklukkan dirinya sendiri, dalam arti menjinakkan hawa nafsu dan pikirannya. Hal ini biasa disebut sebagai ketersingkapan hijab (mukasyafah).

Tahap berikutnya adalah kemampuan untuk mendalami kompleksitas diri yang maha luas dan dalam. Nabi Muhammad pernah bersabda: “Barangsiapa yang mampu memahami dirinya sendiri maka ia akan mampu memahami Tuhannya”. Perkataan Nabi ini sangat dalam. Ilmu pengetahuan yang paling rumit adalah Tuhan, namun referensi utama untuk memahaminya justru terletak di dalam diri kita sendiri.

Kekuatan imajinasi bisa menembus lebih jauh dari alam barzakh, yang secara literal berarti antara. Ia mampu menembus alam-alam yang lebih tinggi, seperti alam malakut (alam para malaikat), alam jabarut (alam roh), bahkan sampai ke puncak melalui mi’raj.

Rasulullah pernah mengisyaratkan hal ini dengan berkata: “Al-Shalat mi’raj al-mu’minin” (Shalat adalah mi’raj orang-orang mukmin). Mari kita terus berlatih dalam bentuk mujahadah dan riyadhah.

Alam Gaib dalam Perspektif Tasawuf

Dalam perspektif tasawuf, tidak dikenal adanya alam gaib dalam arti alam yang di luar kemampuan kognitif manusia untuk memahaminya atau alam yang tak teridentifikasi (unidentifying worlds).

Bagi para sufi, alam gaib bukan sesuatu yang asing. Bagi mereka, alam gaib adalah alam yang berada di balik hijab. Ketika hijab telah terbuka (mukasyafah), maka kegaiban itu hilang. Jika masih ada, hanya entitas tetap (al-a’yan al-tsabitah) yang tersisa. Entitas ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu wahidiyat yang masih bisa dikenali melalui nama-nama-Nya dan ahadiyat yang sudah tidak teridentifikasi, yang disebut sebagai alam gaib mutlak (asrar al-asrar/the sacred of the sacred).

Perbedaan Pandangan Fiqih dan Sufisme

Berbeda dengan para fuqaha yang memberi wilayah alam gaib yang sangat luas, yaitu selain yang masuk dalam kategori alam syahadah, alam dunia yang kita huni.

Sesungguhnya para sufi tidak mendikotomikan antara alam syahadah dan alam gaib. Bagi Ibnu ‘Arabi, alam syahadah tidak murni sebagai alam fisik karena ia hanya elemen dasar dari rangkaian tingkatan alam yang terdiri atas tanah, air, udara, dan api.

Alam syahadah mutlak disebut juga alam dunia (dari akar kata dana, berarti rendah). Alam dunia ini terdiri atas alam mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan sebagian unsur manusia. Kesadaran dan kekuatan imajinasi (quwwah al-hayaliyyah) seseorang dapat menembus batas-batas tersebut. Orang seperti inilah yang biasa disebut wali Allah (min Auliya’ Allah).


Pos terkait