Manfaat Vaksin HPV untuk Perempuan, Cegah Kanker Serviks Dini

Aa1xksxm 1
Aa1xksxm 1



JAKARTA — Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan yang serius di kalangan perempuan, karena sering kali terdeteksi pada tahap lanjut. Padahal, penyakit ini bisa dicegah sejak dini dengan tindakan pencegahan yang tepat.

Kanker serviks disebabkan oleh infeksi virus Human Papillomavirus (HPV) yang menyebar melalui hubungan seksual. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir 99% kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV pada sistem reproduksi wanita. Virus ini sangat umum dan mudah menular, bahkan bisa menjangkiti remaja.

Menurut laman resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 13 juta orang, termasuk remaja, terinfeksi HPV setiap tahun. Namun, kebanyakan kasus tidak menunjukkan gejala, sehingga sering tidak disadari. Meskipun sebagian besar infeksi HPV bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan, infeksi yang menetap dapat berkembang menjadi kanker serviks, serta kanker anus, vulva, penis, atau kepala dan leher pada pria maupun wanita.

Untuk mencegahnya, vaksin HPV menjadi langkah paling efektif. Vaksin ini melindungi terhadap tipe HPV berisiko tinggi, seperti HPV 16 dan 18, yang menjadi penyebab sebagian besar kasus kanker serviks. WHO menyebut vaksinasi sebagai intervensi kesehatan masyarakat yang paling hemat biaya untuk mencegah kanker serviks.

Dalam strategi global eliminasi kanker serviks, WHO merekomendasikan vaksinasi pada anak perempuan sebelum usia 15 tahun. Pemberian vaksin sejak dini bertujuan memberikan perlindungan sebelum paparan virus terjadi. Semakin cepat diberikan, semakin optimal perlindungan yang terbentuk di dalam tubuh.

Saat ini, ada beberapa jenis vaksin HPV yang digunakan secara luas. Berikut adalah beberapa jenis vaksin tersebut:

  • Gardasil-9 (9vHPV): Melindungi dari 9 tipe HPV, yaitu 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58.
  • Vaksin kuadrivalen (4vHPV): Melindungi dari 4 tipe HPV.
  • Vaksin bivalen (2vHPV): Melindungi dari 2 tipe utama penyebab kanker, yakni HPV 16 dan 18.

Semua jenis vaksin ini tetap memberikan perlindungan terhadap HPV 16 dan 18, yang menjadi penyebab mayoritas kanker serviks. Dengan demikian, risiko berkembangnya kanker akibat infeksi HPV dapat ditekan secara signifikan.

Pemberian vaksin disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan. Berikut batas usia yang dianjurkan:

  • Anak usia 11–12 tahun mendapat 2 dosis dengan jarak 6–12 bulan.
  • Vaksin dapat mulai diberikan sejak usia 9 tahun.
  • Remaja dan dewasa usia 15–26 tahun yang baru memulai vaksinasi memerlukan 3 dosis dalam 6 bulan.
  • Individu dengan sistem imun lemah usia 9–26 tahun juga dianjurkan menerima 3 dosis.
  • Usia 27–45 tahun dapat mempertimbangkan vaksinasi setelah berkonsultasi dengan dokter.

Manfaat vaksin pada usia di atas 26 tahun cenderung lebih kecil karena kemungkinan sudah pernah terpapar HPV sebelumnya. Meski demikian, keputusan tetap dapat disesuaikan dengan tingkat risiko masing-masing individu.

Selain vaksinasi, deteksi dini juga menjadi peran penting dalam pencegahan kanker serviks. WHO merekomendasikan skrining untuk mendeteksi lesi prakanker dilakukan dua kali, yakni pada usia 35 tahun dan 45 tahun. Jika lesi prakanker ditemukan dan ditangani lebih awal, risiko berkembang menjadi kanker dapat dicegah. Kombinasi vaksinasi dan skrining dinilai sebagai strategi paling efektif untuk menekan angka kematian akibat kanker serviks.

Dari sisi keamanan, vaksin HPV telah digunakan secara luas selama lebih dari 15 tahun. Lebih dari 200 juta dosis telah diberikan secara global dan terus dipantau melalui sistem pengawasan nasional maupun internasional.

Sebuah penelitian sistematis dan meta-analisis, Institut Penelitian Pelé Pequeno Príncipe, Brazil tahun 2025 yang menggabungkan data dari 11 uji klinis acak menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam kejadian efek samping serius antara kelompok penerima vaksin dan plasebo.

Efek samping yang paling sering muncul berupa nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan, serta kelelahan dan nyeri otot yang bersifat sementara. Efek samping tersebut serupa dengan vaksin lain pada umumnya. Reaksi ringan tersebut justru menjadi tanda bahwa sistem imun sedang membentuk perlindungan terhadap virus.

Kekhawatiran bahwa vaksin HPV mendorong perilaku seksual berisiko telah diteliti secara ilmiah. Penelitian Universitas McGill, Kanada yang menganalisis 20 studi dengan lebih dari 500.000 partisipan menunjukkan remaja yang divaksin tidak memulai aktivitas seksual lebih awal atau memiliki lebih banyak pasangan dibandingkan yang tidak divaksin.

Vaksin HPV pada dasarnya merupakan langkah perlindungan kesehatan jangka panjang. Bahkan seseorang yang hanya memiliki satu pasangan seumur hidup tetap berisiko terinfeksi HPV, sehingga vaksinasi menjadi upaya penting untuk menurunkan risiko kanker serviks yang sebenarnya bisa dicegah.

Pos terkait