Sejarah dan Peran Masjid Besar Al Istiqomah dalam Masyarakat Pangandaran
Masjid Besar Al Istiqomah memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat sekitar, khususnya di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Berdiri sejak tahun 1974, masjid ini berada di lokasi strategis, tepat di seberang Bundaran Marlin, yang merupakan jalur utama menuju Pantai Barat Pangandaran. Lokasinya juga hanya sekitar 50 meter dari kediaman mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti.
Masjid ini dibangun di atas tanah wakaf keluarga besar Susi Pudjiastuti, dengan luas sekitar 5.000 meter persegi. Awalnya, masjid ini dikenal sebagai Masjid Yayasan Amal Bakti Pancasila. Pembangunan kembali dilakukan oleh keluarga besar Susi Pudjiastuti pada masa ayahnya, H. Ahmad Karlan, dan ibunya, Hajjah Suwuh Lasminah.
Sekretaris Umum DKM Masjid Besar Al Istiqomah, Kiyai Majid Murdiansah S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa hampir seluruh bangunan, termasuk halaman, taman, dan area parkir, merupakan tanah wakaf dari keluarga besar Ibu Susi Pudjiastuti. Saat ini, masjid ini memiliki arsitektur megah dengan dua lantai dan satu menara yang berdiri di samping masjid. Halaman dan area parkirnya cukup luas, sehingga sering menjadi tempat singgah rombongan wisatawan.
Selain digunakan untuk melaksanakan shalat lima waktu dan shalat sunnah, masjid ini juga menjadi tempat istirahat bagi para wisatawan sebelum atau setelah berkunjung ke objek wisata Pantai Pangandaran. Pengelolaan masjid saat ini berada di bawah Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang diketuai KH. Maulin Sanusi, S.Pd., dengan Kiyai Majid Murdiansah sebagai Sekretaris Umum dan H. Asep Saefulloh sebagai Bendahara Umum.
DKM secara rutin mengatur jadwal shalat Jumat dan shalat lima waktu. Karena tidak memiliki imam tetap, imam shalat ditunjuk secara bergiliran dari kalangan kiai dan ustaz yang kompeten. Selama bulan suci Ramadan, Masjid Besar Al Istiqomah menjadi pusat kegiatan pesantren kilat bagi pelajar tingkat SD hingga SMA yang tinggal di sekitar Pangandaran. Kegiatan tersebut berada di bawah asuhan Ustaz Al Imron Rosyadi bersama para guru madrasah setempat.
Peristiwa Tsunami 2006 dan Peran Masjid
Masjid Besar Al Istiqomah memiliki sejarah kelam saat tsunami menerjang Pangandaran pada 17 Juli 2006. Saat itu, masjid menjadi lokasi evakuasi warga yang menyelamatkan diri ke lantai dua bangunan. Bagian belakang masjid yang kini menjadi area tempat wudu sempat difungsikan sebagai lokasi pemandian jenazah korban tsunami. Sebelum dimakamkan, beberapa jenazah korban tsunami bahkan disimpan sementara di peti kemas milik Susi Pudjiastuti.
Kiyai Majid Murdiansah mengungkapkan pengalamannya sendiri sebagai korban saat itu ketika menjalankan tugas di Depsos Provinsi Jawa Barat yang bangunannya berada di pinggir pantai blok bulak laut. Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar cerita, tetapi peristiwa yang mereka alami langsung sebagai masyarakat Pangandaran.
Masjid sebagai Penopang Aktivitas Masyarakat dan Pariwisata
Kini, Masjid Besar Al Istiqomah tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga penopang aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata Pangandaran. Letaknya yang berada di jalur utama menuju kawasan wisata menjadikannya tempat singgah favorit para wisatawan. Masjid ini juga menjadi bagian dari wajah pariwisata Pangandaran.
“Masjid ini bukan hanya bangunan untuk beribadah, tapi juga menjadi penopang pemerintah Kabupaten Pangandaran, terutama bagi tamu wisata yang hendak singgah sebelum atau sesudah berkunjung ke Pantai Pangandaran,” ujarnya.





