Sejarah Masjid Amir Hamzah: Saksi Perubahan Zaman di Tengah Kesenian Jakarta
Masjid Amir Hamzah terletak di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta. Meskipun tidak sepopuler Masjid Istiqlal atau masjid-masjid kuno di Kota Tua, masjid ini memiliki kisah yang unik dan penuh dinamika. Dari awalnya lahir dari kritik hingga mengalami pembongkaran dan revitalisasi, masjid ini menjadi saksi perubahan wajah Jakarta.
Lahir dari Kritik di Ruang Teater
Pada saat Taman Ismail Marzuki (TIM) resmi dibuka pada 10 November 1968, belum ada masjid permanen di dalam kawasan tersebut. Shalat Jumat digelar di ruang Teater Baru. Suatu hari, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, ikut menunaikan ibadah Jumat di sana. Dalam khotbahnya, K.H. Mukhlas Rowi mengkritik bahwa kompleks kesenian sebesar TIM tidak memiliki masjid.
Sejarawan JJ Rizal pernah menceritakan bahwa Bang Ali, yang dikenal galak, justru merasa diingatkan oleh khatib. Setelah shalat Jumat selesai, ia menyetujui usulan untuk membangun masjid di TIM. Dari situ, proses perencanaan dimulai. Ajip Rosidi, Ketua Dewan Kesenian Jakarta saat itu, ditugaskan untuk menyusun konsep dan anggaran. Ia kemudian menghubungi arsitek Ahmad Noe’man, yang sebelumnya merancang Masjid Salman ITB.
Tanpa Kubah, Sarat Gagasan
Masjid Amir Hamzah diresmikan pada 7 Januari 1977. Nama ini dipilih untuk mengenang Amir Hamzah, penyair nasional yang religius. Desain arsitektur masjid ini mengikuti semangat pembaruan seperti pada Masjid Salman ITB: tanpa kubah. Gagasan ini sempat menuai kritik karena dianggap keluar dari tradisi arsitektur masjid Nusantara.
JJ Rizal menuturkan bahwa perdebatan tentang kubah juga terjadi saat Noe’man mempresentasikan desain Masjid Salman kepada Presiden Soekarno. “Dalam Islam yang penting ‘apinya’,” demikian logika yang dikutip dari pandangan Noe’man. Maksudnya, esensi spiritual lebih penting daripada simbol bentuk. Garis-garis vertikal dalam desain dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, sementara garis horizontal melambangkan relasi antarmanusia.
Masjid sebagai Laboratorium Kerohanian
Meski kapasitasnya hanya sekitar 250 jamaah, masjid ini pernah berfungsi sebagai “laboratorium kerohanian” di tengah “laboratorium seni” TIM. Tokoh-tokoh seperti Hamka, Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, hingga Nurcholish Madjid pernah mengisi ceramah di sana. Para sastrawan seperti Taufik Ismail dan Zawawi Imron pun turut mewarnai diskusi keagamaan di ruang tersebut. Masjid kecil itu pernah menjadi titik temu antara iman, intelektualitas, dan kebudayaan.
Dibongkar dan Direlokasi
Namun perjalanan masjid ini tak lepas dari dinamika pembangunan kota. Pada akhir 2013, bangunan lama Masjid Amir Hamzah dibongkar dalam rangka penataan ulang kawasan TIM. Kebijakan ini memicu polemik karena menyangkut bangunan yang memiliki nilai sejarah. Masjid sempat direlokasi ke basement Planetarium pada 2014–2017. Tak lama kemudian, revitalisasi total TIM kembali membuat masjid terdampak. Aktivitas ibadah bahkan dipindahkan ke basement selama proses pembangunan berlangsung.
Wajah baru Masjid Amir Hamzah akhirnya diresmikan kembali pada 3 Juli 2020 oleh Gubernur Anies Baswedan. Desain modern-industrial karya Andra Matin menghadirkan konsep ramah lingkungan dengan kolam ikan mengelilingi bangunan. Secara visual, masjid ini tampil minimalis, terbuka, dan kontekstual dengan arsitektur baru TIM. Namun perubahan fisik yang berulang juga membawa konsekuensi: memori sejarahnya semakin sulit dilacak.
Generasi Baru yang Tak Lagi Mengenal Sejarahnya
Edi Junaedi, Pengurus Masjid Amir Hamzah, mengakui bahwa tidak semua jamaah memahami sejarah panjang masjid ini. Selain dosen dan pengajar atau pekerja di IKJ yang sudah senior, banyak mahasiswa saat ini tak tahu sejarah Masjid Amir Hamzah. Menurut Edi, perubahan lokasi dan bentuk bangunan membuat kesinambungan cerita terputus. Ditambah lagi, prasasti asli yang ditandatangani Ali Sadikin tidak lagi dipajang di area yang mudah dilihat pengunjung.
Padahal, bagi mahasiswa Institut Kesenian Jakarta yang setiap hari beraktivitas di sekitar masjid, memahami sejarah tempat ini bisa menjadi bagian dari kesadaran akan hubungan antara agama dan kebudayaan.
Ramadhan dan Upaya Merawat Ingatan
Di bulan Ramadhan, Masjid Amir Hamzah kembali ramai oleh jamaah untuk salat tarawih dan kajian. Namun di balik keramaian itu, tersimpan pertanyaan tentang bagaimana sejarahnya dirawat. Masjid ini menyimpan narasi unik: lahir dari kritik di ruang teater, dirancang arsitek pembaru, menjadi ruang diskusi tokoh-tokoh besar, lalu berkali-kali dibongkar demi menyesuaikan wajah kota.
Jika tak didokumentasikan dan dikenalkan kembali, sejarah itu bisa benar-benar pudar. Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk tak sekadar beribadah, tetapi juga menelusuri jejak masa lalu. Mengunjungi Masjid Amir Hamzah hari ini bukan hanya tentang menikmati arsitektur modernnya. Ia juga tentang menyadari bahwa di tempat itu pernah menyala ‘api’ gagasan, api yang semestinya tetap dijaga agar tak padam oleh zaman.





