Sejarah dan Perkembangan Masjid Jami Koba
Masjid Jami Koba berdiri kokoh di tengah Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Saat matahari mulai condong ke barat, suara azan Salat Ashar berkumandang dengan merdu dari masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat. Para umat Muslim mulai berdatangan dari berbagai arah menuju kawasan masjid yang terletak di pusat kota.
Di halaman masjid, empat menara dengan hiasan kubah berwarna kuning emas tampak megah dan mencerminkan konsep desain adat Melayu. Kubah berbentuk seperti tudung saji menegaskan bahwa bangunan ini memiliki nilai budaya yang tinggi. Masjid ini berada di lahan seluas sekitar 4.000 meter persegi, yang menjadikannya salah satu tempat ibadah yang strategis.
Saat memasuki bagian dalam masjid, enam tiang penyangga memberikan kesan elegan yang dipadukan dengan warna hijau muda yang dihiasi oleh elemen kuning emas. Penataan interior ini mencerminkan perpaduan antara estetika dan fungsi, sehingga memberikan kenyamanan bagi jemaah saat melaksanakan ibadah.
Sejarah Pembangunan Masjid
Pengurus Masjid Jami Koba, Lurizal Ahmad Lutfi, menceritakan bahwa rumah ibadah ini dibangun sejak tahun 1970 melalui inisiatif masyarakat setempat yang sebagian besar adalah nelayan. “Realisasi awal pembangunan dimulai di akhir tahun 1970 dan awal 1971, itu merupakan bangunan Masjid Jami pertama,” ujarnya.
Awalnya, luas masjid tidak sebesar yang kita lihat sekarang. Rencana perluasan kemudian digulirkan pada 2009, tetapi tetap berusaha mempertahankan struktur awal, termasuk penempatan tiang dan pondasi. “Kami tetap memanfaatkan struktur bangunan lama, serta tata letak posisi. Jadi, istilahnya hanya penambahan struktur luar, tapi struktur lama tetap ada,” tambahnya.
Lurizal mengungkapkan bahwa proses pembangunan awal memakan waktu hingga 10 tahun. “Dulu, masjid baru selesai dalam waktu 10 tahun, dari tahun 1970 sampai 1980. Karena waktu itu, masjid permanen sangat jarang ditemui,” ujarnya.
Kontribusi Masyarakat dan Perluasan Masjid
Menurut Lurizal, pembangunan awal masjid dilakukan secara mandiri oleh masyarakat sekitar tanpa bantuan pemerintah. “Masyarakat nelayan yang mendominasi daerah ini membantu membangun masjid,” katanya.
Setelah perluasan pada 2009, bantuan pemerintah mulai masuk. Namun, proses perluasan juga membutuhkan waktu yang cukup panjang, yaitu selama 10 tahun. “Jadi, sama-sama 10 tahun. Pembangunan awal oleh masyarakat nelayan 10 tahun, kemudian perluasan juga 10 tahun. Memang tidak instan membangun ini,” ucapnya.
Aktivitas dan Kapasitas Masjid
Sebagai pengurus, Lurizal menyebutkan bahwa Masjid Jami Koba selalu ramai dikunjungi umat Islam untuk melaksanakan ibadah salat lima waktu, terutama selama bulan Ramadan. “Kami rutin mengadakan tausiyah sebelum shalat tarawih, dan buka puasa bersama setiap hari Kamis,” jelasnya.
Masjid berkonsep dua lantai ini memiliki kapasitas yang cukup besar. Secara keseluruhan, masjid dapat menampung hingga 1.600 jemaah. “Kapasitas di bawah bisa mencapai 1.200 jemaah, ditambah bagian atas, teras, dan sisi-sisi. Saat lebaran, jumlah jemaah bisa mencapai 1.600 hingga 1.800 orang,” tambahnya.





