Mata Uang Negara Berkembang Tumbang Akibat Persaingan Israel-AS vs Iran

Aa1xltqm
Aa1xltqm



JAKARTA — Mata uang di pasar negara berkembang (emerging market) mengalami penurunan pada awal perdagangan pekan ini. Hal ini terjadi sebagai respons terhadap eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah yang meletus akhir pekan lalu. Kekhawatiran tentang perang antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran serta lonjakan harga minyak memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.

Berdasarkan data dari Bloomberg, indeks mata uang negara berkembang turun sebesar 0,7% dalam sesi perdagangan yang kedua secara berturut-turut. Sementara itu, dolar AS terus menguat sebesar 0,7% dan mencapai level tertingginya dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa mata uang seperti peso Filipina, rand Afrika Selatan, dan baht Thailand menunjukkan pelemahan terdalam dibandingkan mata uang lainnya. Di sisi lain, saham di pasar negara berkembang juga turun hingga 1,5%, menjadi penurunan terbesar dalam lebih dari tiga minggu.

Untuk mencegah pelemahan yang lebih dalam, bank sentral Indonesia dan India melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menopang mata uang masing-masing. Hal ini dilakukan karena adanya sentimen penghindaran risiko (risk-off) dan penguatan dolar AS.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah memengaruhi berbagai sektor, termasuk minyak, pelayaran, dan transportasi udara. Harga minyak mentah acuan Brent melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari setahun sebelum akhirnya mengalami penurunan. Sementara itu, dolar AS dan emas menguat karena para investor mencari aset safe haven. Kondisi ini semakin menekan mata uang negara berkembang dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi.

Brendan McKenna, ahli strategi pasar negara berkembang di Wells Fargo di New York, menyatakan bahwa situasi saat ini merupakan guncangan yang menyebabkan mata uang negara berkembang melemah. Ia menjelaskan bahwa respons Iran kali ini lebih agresif dibandingkan sebelumnya, dengan Selat Hormuz secara efektif ditutup dan kerja sama antara AS-Israel yang semakin intensif. Guncangan tersebut, dikombinasikan dengan pandangan bahwa aset negara berkembang dinilai terlalu mahal dan dimiliki secara berlebihan, kemungkinan akan memicu aksi jual pada hari-hari awal konflik.

Lebih lanjut, negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor minyak, seperti Korea Selatan, Taiwan, India, Filipina, dan Thailand, akan mengalami dampak signifikan dari kenaikan harga minyak. Peningkatan biaya impor dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memperparah kesulitan ekonomi di negara-negara tersebut.

Beberapa faktor lain yang memengaruhi stabilitas pasar negara berkembang adalah ketidakpastian politik global dan fluktuasi nilai tukar dolar AS. Investor cenderung lebih waspada terhadap aset berisiko dan lebih memilih aset yang aman, seperti emas atau dolar. Hal ini berdampak pada arus modal yang bergerak dari pasar negara berkembang ke pasar utama.

Dalam situasi seperti ini, kebijakan moneter dan fiskal yang tepat sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi. Bank sentral di berbagai negara berkembang harus tetap waspada dan siap merespons perubahan yang terjadi di pasar global. Dengan demikian, mereka dapat meminimalkan dampak negatif terhadap rakyat dan perekonomian nasional.

Selain itu, kerja sama internasional juga menjadi kunci dalam menghadapi krisis global. Negara-negara yang terlibat dalam konflik di Timur Tengah perlu bekerja sama untuk menciptakan solusi damai dan stabil. Dengan begitu, stabilitas ekonomi dan keamanan global dapat terjaga.

Pos terkait