Kekhawatiran Publik Terhadap Operasi Militer di Timur Tengah
Sebanyak 43 persen warga Amerika Serikat menyatakan ketidaksetujuan terhadap operasi militer yang menewaskan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa kekhawatiran publik terhadap kebijakan militer Presiden Donald Trump semakin meningkat, sementara perpecahan politik di Washington juga semakin tajam.
Survei yang dirilis oleh Reuters bekerja sama dengan Ipsos pada Minggu (1/3/2026) mengungkapkan bahwa hanya 27 persen responden yang setuju dengan serangan tersebut. Sebanyak 43 persen menolak, sementara 29 persen lainnya masih ragu-ragu atau belum menentukan sikap. Meski 90 persen responden telah mengetahui kabar serangan tersebut, tingkat dukungan publik tetap rendah.
Penilaian Masyarakat Terhadap Penggunaan Kekuatan Militer
Survei ini juga menunjukkan bahwa 56 persen warga Amerika menilai Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk mendorong kepentingan luar negeri AS. Pandangan ini tidak hanya datang dari Partai Demokrat, tetapi juga merambah pemilih independen dan sebagian basis Partai Republik.
Dari 87 persen responden Partai Demokrat, sebagian besar menilai Trump terlalu agresif. Dari kalangan independen, 60 persen memiliki pandangan serupa. Bahkan, 23 persen responden Partai Republik mengaku mulai meragukan kebijakan militer presiden dari partainya tersebut.
Perbedaan Pandangan di Capitol Hill
Perbedaan pandangan juga terlihat jelas di Capitol Hill, Washington. Sejumlah tokoh Partai Republik memberikan dukungan penuh terhadap keputusan presiden. Ketua DPR AS, Mike Johnson, menyatakan bahwa Iran harus menanggung konsekuensi atas tindakannya. Pemimpin Mayoritas Senat John Thune juga memuji langkah Trump.
“Saya mengapresiasi Presiden Trump yang mengambil tindakan untuk menggagalkan ancaman nuklir dan terorisme Iran yang selama ini menolak jalur diplomasi,” ujar Thune.
Sebaliknya, Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries menyesalkan kegagalan Trump untuk meminta otorisasi dari Kongres sebelum meluncurkan serangan masif. “Keputusan presiden meninggalkan diplomasi telah membuat pasukan AS rentan terhadap aksi balas dendam,” katanya.
Senator senior Chuck Schumer bahkan menyebut tindakan Trump sebagai siklus kemarahan yang tidak memiliki strategi jelas. Sementara itu, kelompok progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) melabeli serangan ini sebagai tindakan inkonstitusional.
Desakan Untuk Mengaktifkan War Powers Resolution
Mereka mendesak Kongres segera mengaktifkan War Powers Resolution guna membatasi kewenangan presiden dalam penggunaan kekuatan militer. “Perang Trump–Netanyahu ini melanggar hukum internasional dan membahayakan nyawa pasukan kita. Kongres harus segera meloloskan Resolusi Kekuatan Perang (War Powers Resolution),” tegas Bernie Sanders.
Situasi ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat kini menghadapi perpecahan politik dan opini publik yang tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.





