Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Tetap Berjalan Selama Ramadan
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan tetap berjalan seperti biasanya. Namun, dalam pelaksanaannya di sejumlah sekolah masih ditemukan kekeliruan terutama terkait sistem distribusi makanan yang dirapel untuk beberapa hari sekaligus.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Irjen Pol Sony Sonjaya menegaskan bahwa pembagian MBG selama Ramadan harus dilakukan setiap hari dan tidak boleh dirapel. Ia menyatakan bahwa makanan yang dibawa pulang ke rumah itu per hari, bukan satu hari dibagikan untuk jumlah makanan selama tiga hari.
“Ini keliru,” ujar Sony saat Rapat Konsolidasi MBG bersama Pemprov Sumsel, yayasan, dan mitra se-Sumsel di Hotel Aryaduta, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, selama Ramadan menu yang dibagikan berupa paket makanan kering. Namun di lapangan, masih banyak penyedia dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan paket tersebut dengan cara dirapel. Sony memastikan pihaknya akan menindaklanjuti dan mengevaluasi sistem distribusi yang tidak sesuai standar.
Ramadan bukan alasan untuk menghentikan program MBG. Tujuan utama program ini adalah memastikan penerima manfaat tetap memperoleh asupan gizi seimbang meskipun sedang berpuasa.
“Selama Ramadan tidak berhenti kita memberi asupan gizi. Jadi kita bagikan makanan kering ke sekolah,” jelasnya.
Sony juga mengungkapkan, saat ini jumlah SPPG telah mencapai sekitar 24.000 unit di seluruh Indonesia. Dengan jumlah sebesar itu, pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya seragam.
“Ada yang mungkin arahan tidak diterima secara utuh. Tetapi arahan kami jelas, Ramadan tidak menjadi alasan untuk berhentinya asupan bergizi,” tegasnya.
Menurutnya, untuk siswa yang tinggal di pondok pesantren atau boarding school, SPPG tetap memasak makanan seperti biasa pada siang hari dan membagikannya menjelang waktu berbuka puasa.
“Kembali kami tegaskan, bukan satu hari untuk dibagi makanan tiga hari ke depan. Itu keliru dan tolong diingatkan,” katanya.
Masalah Distribusi Menu MBG
Di sisi lain, pembagian menu MBG dalam bentuk paket kering menuai polemik di lapangan. Sejumlah orang tua menilai menu yang dibagikan kurang layak dan tidak memenuhi standar gizi.
Sony menegaskan bahwa mulai Senin, SPPG wajib memiliki akun media sosial Facebook, Instagram, TikTok. Media sosial tersebut difungsikan sebagai sarana transparansi dan pelaporan harian kepada masyarakat.
Menurutnya, menu yang dibuat hari itu di SPPG wajib dilaporkan kepada masyarakat. Menunya apa, makanannya apa saja, kandungan gizinya berapa, harganya berapa.
Jika ditemukan kejanggalan harga bahan pangan, masyarakat dipersilakan untuk mempertanyakannya.
Penjelasan Lebih Lanjut tentang MBG
Program MBG bertujuan untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup selama bulan Ramadan. Dalam pelaksanaannya, setiap hari siswa akan menerima paket makanan kering yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi mereka.
Namun, masalah distribusi sering kali terjadi karena adanya penyalahgunaan sistem yang menyebabkan makanan dibagikan untuk beberapa hari sekaligus. Hal ini dapat mengurangi efektivitas program dan bahkan berisiko merugikan kesehatan para penerima manfaat.
Sony menekankan bahwa setiap hari makanan harus dibagikan secara teratur agar nutrisi yang diperlukan tetap terpenuhi. Ia juga menegaskan bahwa setiap SPPG harus menjaga kualitas makanan dan memastikan bahwa semua informasi tentang menu dan harga tersedia secara transparan.
Dengan adanya akun media sosial, masyarakat dapat lebih mudah memantau dan memberikan pengawasan terhadap program MBG. Ini juga menjadi cara untuk meningkatkan partisipasi aktif dari orang tua dan masyarakat dalam menjaga kualitas program.





