Upaya Diplomasi dan Kekhawatiran Regional
Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar secara diam-diam melakukan lobi terhadap sekutu mereka untuk mempengaruhi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, agar membatasi durasi operasi militer terhadap Iran. Hal ini dilaporkan oleh Bloomberg pada Senin, yang mengungkapkan bahwa kedua negara tersebut berupaya membentuk koalisi luas guna mencapai penyelesaian diplomatik yang cepat bagi konflik tersebut.
Kekhawatiran utama dari UEA dan Qatar adalah kemungkinan eskalasi regional serta dampak jangka panjang terhadap harga energi. Menurut laporan Bloomberg, sumber-sumber yang mengetahui masalah ini menyatakan bahwa keduanya sedang berusaha membangun konsensus di antara negara-negara lain untuk mencegah situasi semakin memburuk.
Ancaman terhadap Pasar Gas Alam
Qatar menilai bahwa pasar gas alam bisa mengalami reaksi signifikan jika jalur pelayaran di kawasan tersebut tetap terganggu hingga pertengahan pekan ini. Ini menjadi salah satu alasan mengapa negara-negara Teluk ingin segera menyelesaikan konflik dengan Iran.
Trump sendiri sebelumnya menyatakan bahwa kampanye militer terhadap Iran diperkirakan akan berlangsung selama empat hingga lima pekan. Ia juga menyebutkan bahwa operasi tersebut dapat diperpanjang jika diperlukan. Namun, ia tidak memberikan detail spesifik tentang bagaimana operasi tersebut berjalan. Menurutnya, operasi berjalan “lebih cepat dari jadwal.”
Peningkatan Kemampuan Pertahanan Udara
Sementara itu, UEA dan Qatar berusaha meningkatkan kemampuan pertahanan udara mereka. UEA telah meminta bantuan dari sekutu dalam hal pertahanan udara jarak menengah, sedangkan Qatar lebih fokus pada perlindungan terhadap serangan drone. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa Qatar menghadapi kekurangan kritis rudal pencegat Patriot, dengan analisis internal menunjukkan bahwa persediaannya hanya akan bertahan empat hari lagi dengan tingkat penggunaan saat ini.
Qatar sebelumnya melaporkan bahwa pertahanan udaranya berhasil mencegat tujuh rudal balistik dan lima drone, serta menembak jatuh dua pesawat SU-24 yang dilepaskan ke arah negara Teluk tersebut.
Serangan Iran terhadap Aset Militer AS
Iran menyerang negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS sebagai balasan atas kampanye gabungan AS-Israel yang diluncurkan pada Sabtu lalu. Serangan tersebut menewaskan beberapa pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersama istri, anak, menantu, dan cucu yang baru berusia 14 bulan.
Markas besar Badan Intelijen Pusat AS (CIA) di Dubai menjadi sasaran serangan rudal Iran, demikian dilaporkan kantor berita Fars melalui saluran Telegramnya seperti dikutip Tass. Sebelumnya, informasi juga menyebutkan bahwa empat orang terluka akibat serangan Iran terhadap Bandara Internasional Dubai.
Menurut laporan IRGC, pangkalan udara AS Al Minhand di Uni Emirat Arab diserang dengan enam drone dan lima rudal balistik.
Penyangkalan dari Qatar
Qatar pada hari Selasa membantah laporan Bloomberg yang menyebut bahwa persediaan rudal pencegat Patriot mereka telah habis. Dalam pernyataannya, Kantor Media Internasional mengatakan bahwa persediaan rudal pencegat masih cukup dan angkatan bersenjata sepenuhnya siap.
Mereka menyebut laporan tersebut sebagai “informasi palsu” yang diterbitkan tanpa verifikasi selama periode yang sangat sensitif. Pihak berwenang juga sedang meninjau semua opsi yang sesuai, termasuk tindakan hukum, untuk memastikan informasi yang salah tersebut dikoreksi.





