Menanti Mesin Ekonomi Baru Kaltim, BI Targetkan Pertumbuhan 5,3% pada 2026

Aa1xj7ak 1
Aa1xj7ak 1



Samarinda — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur memproyeksikan pertumbuhan ekonomi regional pada tahun 2026 berada di kisaran 4,53% hingga 5,3%. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian sekitar 6% pada tahun 2024.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, penurunan proyeksi pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari normalisasi anggaran pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara pasca-percepatan proyek infrastruktur pada 2024.

Tahun 2024 merupakan periode akselerasi demi mengejar upacara perdana di bulan Agustus, sedangkan 2025 dan 2026 menjadi fase konsolidasi fiskal yang lebih terukur.

“Selain itu, ada penambahan dari sisi migas, khususnya dari sektor pengolahan. Dari sektor pertanian juga ada satu, kalau tidak salah pabrik kelapa sawit akan terpusat lalu sebagainya,” ujarnya dalam temu media, Jumat (27/2/2026).

Jajang menegaskan bahwa proyeksi pertumbuhan tersebut disusun dengan mempertimbangkan beberapa variabel krusial, termasuk perlambatan ekonomi global yang berdampak langsung pada dinamika domestik.

Sektor batu bara, yang secara historis menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim dengan kontribusi signifikan sejak 2010—2020, kini menghadapi hambatan serius.

Dia mengungkapkan stagnasi harga komoditas di pasar internasional, ditambah pembatasan alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) secara nasional, telah mempersempit ruang gerak ekspor ke pasar tradisional seperti Tiongkok dan India.

Ketergantungan pada sektor ekstraktif ini pernah membuat pertumbuhan ekonomi Kaltim terjerembab ke level 2%—3% pada periode tertentu.

“Nah, itulah mengapa pertumbuhannya sangat rendah? Karena memang ekonomi Kaltim itu engine-nya cuma satu, yaitu sektor ekstraktif. Maaf, makanya pertumbuhan ekonomi Kaltim di rentang 2010 sampai 2020 itu rendah karena memang sangat bergantung dari globalnya seperti apa, harga batubaranya seperti apa,” katanya.

Meskipun begitu, ada angin segar yang mulai berhembus. Pemerintah Provinsi telah menginisiasi sejumlah proyek strategis yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru pada 2026.

Operasionalisasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Kilang Soda Ash di Bontang diprediksi akan memberikan multiplier effect terhadap sektor industri pengolahan.

Tidak hanya itu, peningkatan produksi migas sebesar 100.000 barel per hari, bersama dengan pengembangan pabrik kelapa sawit, diharapkan mampu mendongkrak sektor pertanian dan manufaktur. Investasi swasta pun mulai berdatangan, termasuk proyek pabrik pakan dan peternakan ayam milik Danantara yang akan memperkuat rantai pasok pangan regional.

Adapun, Jajang menyebutkan gelombang kedua migrasi Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Jakarta ke IKN dan Balikpapan akan menstimulasi sektor perdagangan dan konsumsi domestik. Fenomena ini berpotensi menciptakan efek berantai pada sektor jasa, properti, dan logistik yang selama ini kurang berkembang.

Beberapa faktor lain yang turut memengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi Kaltim adalah kebijakan pemerintah daerah dalam memperkuat sektor-sektor non-ekstraktif serta upaya meningkatkan daya saing ekonomi lokal.

Dengan adanya proyek-proyek strategis dan diversifikasi sektor ekonomi, diharapkan pertumbuhan ekonomi Kaltim dapat meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Pos terkait