Mencari Gamis “Bini Orang” di Pasar Johar Jadi Tren Lebaran Akibat Viral TikTok

23018 Tren Baju Lebaran Shimmer Heboh Di Tiktok 1
23018 Tren Baju Lebaran Shimmer Heboh Di Tiktok 1

Ramai di Pasar Johar, Tren Gamis “Bini Orang” Jadi Incaran Pengunjung

Akhir pekan ini terasa lebih sibuk dari biasanya di Pasar Johar. Kehadiran para pengunjung semakin meningkat menjelang hari raya, khususnya setelah memasuki hari ke-11 Ramadan. Mereka mulai berburu kebutuhan Lebaran, baik itu sandal maupun busana muslim yang terbaru.

Salah satu model yang sedang diminati adalah gamis dengan desain yang populer di media sosial, dikenal dengan istilah “bini orang”. Mutmainah (23), seorang pengunjung Pasar Johar, mengatakan bahwa ia sengaja datang ke pasar untuk mencari baju Lebaran. Meski hanya memiliki waktu luang di akhir pekan, ia tetap berusaha menemukan gamis yang diinginkan.

“Kebetulan sudah cari-cari referensi baju lebaran di media sosial. Ini cari bajunya (gamis) ‘bini orang’,” ujarnya saat ditemui di Pasar Johar Tengah.

Mutmainah mengungkapkan bahwa ia biasa memilih baju Lebaran berdasarkan tren yang sedang populer. Selain gamis, ia juga berencana mencari sandal untuk melengkapi penampilannya. Meskipun baru tiba di pasar saat wawancara dilakukan, ia tetap optimistis bisa menemukan model yang cocok.

“Ikut tren saja. Biasanya (berburu baju lebaran) juga saat-saat ini,” tambahnya.

Pengunjung lain, Anggun (24), masih mencari model baju yang sesuai dengan selera dan kebutuhannya. Ia datang ke Pasar Johar untuk jalan-jalan sekaligus membeli jika ada model yang menarik perhatian.

“Belum ada gambaran, ini lihat-lihat dulu model bajunya,” katanya.

Meski belanja online semakin marak dengan berbagai promo menarik, Mutmainah tetap lebih nyaman berbelanja langsung di pasar. Menurutnya, membeli secara daring kadang tidak sesuai ekspektasi. Ia pun merasa lebih puas ketika bisa langsung melihat dan memilih produk yang diinginkan.

“Harga di pasar hampir sama dengan online,” ungkapnya.

Tren “Bini Orang” Digandrungi Pedagang

Tren “bini orang” juga diakui oleh para pedagang sebagai salah satu model paling laris sejak awal Ramadan. Dewi (48), salah satu penjual gamis di Pasar Johar, menyebut permintaan meningkat tajam bahkan sejak pekan pertama puasa.

“Yang paling laris ya ‘bini orang’. Dari awal puasa sudah banyak yang cari,” jelasnya.

Selain “bini orang”, Dewi juga menyebut adanya model lain seperti “menantu idaman”. Namun, menurutnya, pamor “bini orang” jauh lebih kuat di pasaran tahun ini. Ia menjelaskan bahwa tren tersebut ramai diperbincangkan di TikTok dan cepat menyebar lewat konten fesyen.

“(Ramainya) Di TikTok. Terinspirasi dari Inara kali,” katanya.

Model gamis “bini orang” memiliki ciri khas potongan simpel dengan detail renda di bagian bawah rok. Motif dan coraknya beragam, namun siluetnya cenderung sama, yaitu longgar, anggun, dan memberi kesan dewasa.

“Modelnya kayak gini, cuma bawahnya ada renda-rendanya,” jelas Dewi sambil menunjukkan salah satu koleksi.

Dewi menyebut bahwa bahan yang digunakan untuk gamis “bini orang” bervariasi, mulai dari ceruty dengan beberapa tingkatan kualitas, mulai dari standar hingga premium. Ada pula pilihan katun jaguar. Untuk model bermotif, umumnya menggunakan bahan seruti dengan tambahan detail renda menyerupai brokat di bagian bawah.

Soal harga, Dewi mematok kisaran Rp225 ribu hingga Rp300 ribu per potong, tergantung jenis bahan.

“Bedanya di bahan. Seruti itu ada yang biasa, ada yang premium,” jelasnya.

Menurut Dewi, segmen pasar gamis “bini orang” lebih banyak diminati perempuan usia 30 tahun ke atas. “Lebih ke orang dewasa sampai orang tua,” ujarnya. Meski begitu, lanjutnya, tidak sedikit keluarga yang membeli seragam atau “couple-an” untuk dikenakan saat Hari Raya.

Model “Bini Orang” Juga Digandrungi Pembeli

Pedagang lain, Ratnasari, menyebut model “bini orang” menjadi salah satu yang paling banyak ditanyakan pembeli menjelang Lebaran tahun ini.

“Model terbaru sekarang ya kayak gini, ‘bini orang’ ini,” ujarnya sambil menunjukkan gamis dengan detail renda di bagian bawah.

Menurut Ratnasari, tren “bini orang” sebenarnya sudah mulai muncul bahkan sebelum Ramadan. Ia mengetahui kepopulerannya dari media sosial, terutama TikTok, yang ramai menampilkan model tersebut dari pusat grosir seperti Tanah Abang.

Meski sempat muncul anggapan tren viral bisa membuat pembeli ragu karena takut “kembar” dengan orang lain, Ratnasari justru melihat sebaliknya.

“Malah banyak yang cari,” katanya.

Namun, ia mengamati segmen pembelinya cenderung berbeda. Model ini lebih diminati kalangan ibu-ibu dibanding remaja.

“Biasanya sih ibu-ibu. Kalau remaja kayaknya kurang suka, takut kembar,” ucapnya.

Ratna menyebut, dalam sehari, ia rata-rata menjual dua hingga tiga potong gamis “bini orang”, menyesuaikan dengan tingkat keramaian pasar.


Pos terkait