Mencegah Krisis Spiritual

Sg 11134201 22110 S1fmgo9wt2jv67 1
Sg 11134201 22110 S1fmgo9wt2jv67 1

Kualitas Keberagamaan yang Sejati

Dalam perjalanan sejarah dunia Islam, terdapat banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari berbagai kejadian spiritual. Salah satunya adalah tentang bagaimana kesombongan dan keangkuhan bisa menyebabkan jatuhnya makhluk dari langit ke bumi. Malaikat-malaikat tertentu jatuh karena membangkang dan merasa lebih tinggi dari yang lain, sementara manusia jatuh karena tidak mampu mengendalikan nafsu.

Dalam sebuah hadis yang diceritakan dalam kitab Ihya Ulum al-Din karya Imam Al-Gazali, ada kisah seorang ulama yang sangat tekun dalam ibadah. Ia menghabiskan waktu dan pikirannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, ia juga mengasingkan diri dari keramaian agar tidak terkontaminasi oleh dosa-dosa orang-orang awam.

Suatu hari, seorang perempuan pelacur datang kepadanya untuk curhat dan meminta nasihat. Ia bertanya apakah masih ada harapan bagi dirinya untuk diampuni Tuhan setelah hidupnya yang penuh dosa. Sang ulama menolak permintaan itu dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin menodai dirinya dengan berkomunikasi dengan orang kotor seperti itu.

Kisah ini kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Dari cerita tersebut, Nabi mengatakan bahwa sang ahli ibadah itu akan menjadi penghuni neraka, sedangkan perempuan yang ingin bertaubat dengan tulus adalah penghuni surga. Subhanallah.

Kriteria Kualitas Keberagamaan

Riwayat ini mengingatkan kita bahwa kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari jumlah ibadah mahdhah yang dilakukan, tetapi juga dari ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu. Bahkan, celakalah bagi orang salat yang tidak membawa dampak sosial kemasyarakatan.

Aktivitas ibadah dan spiritual yang dilakukan tanpa memperdulikan lingkungan masyarakat di mana seseorang berada justru bisa membuatnya terjebak dalam ego spiritual atau kesombongan spiritual. Ego spiritual adalah ketika seseorang terlalu mengedepankan hubungan vertikalnya dengan Tuhan tanpa peduli pada lingkungan sekitarnya. Ia cenderung menghindar karena merasa tidak selevel dengan orang-orang di sekitarnya.

Orang-orang seperti ini sering kali memilih sahabat dan menghindari orang-orang yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Jika mereka dijauhi, maka mereka semakin jauh dari Tuhan. Sementara kita, dengan asyiknya beribadah sendirian tanpa kehadiran mereka yang mungkin menyita waktu, tenaga, pikiran, dan materi, maka kita termasuk dalam kategori ego spiritual (inniyyah).

Kesombongan Spiritual yang Berbahaya

Kesombongan spiritual tidak berbeda dengan kesombongan duniawi yang lebih menekankan kebanggaan individu. Orang-orang seperti ini sering kali tidak memiliki bekas-bekas sujud (atsar al-sujud) dalam Alquran. Bekas sujud bukan sekadar menghitamkan dahi di atas kening, melainkan komitmen sosial yang tinggi sebagai bagian dari penghayatan nilai-nilai ajaran agama.

Termasuk dalam kesombongan spiritual ialah menikmati pujian orang-orang yang mengaguminya karena banyaknya ibadah yang dilakukan. Misalnya, seseorang mungkin melakukan puasa Senin-Kamis, salat-salat rawatib tidak ditinggalkan, dan zikirnya terus berjalan. Namun, ia memandang rendah orang lain yang tidak seperti dirinya.

Amal-amal kebajikan yang dilakukannya lebih banyak digunakan untuk mengaktualisasikan diri, sehingga orang takjub dan memberikan pujian. Padahal, mungkin saja ia meninggalkan aib dan dosa-dosa yang terus-menerus dilakukannya. Hanya karena keterampilannya menggunakan topeng kepalsuan, ia tidak dipermalukan orang lain.

Tantangan Masa Depan

Kesombongan spiritual tetap akan menjadi tantangan umat masa depan. Bahkan, mungkin akan semakin meningkat seiring dengan berkembangnya alat komunikasi canggih yang bisa digunakan untuk memuji atau menerima pujian. Ada fenomena di mana jika tidak ada yang memuji, misalnya dengan mencium tangan atau bentuk kultus lainnya, maka seseorang akan kehilangan semangat sepanjang hari.

Semakin banyak pujian yang diterima, semakin mabuk dengan pujian itu, lantas rekayasa dilakukan agar orang lain memujinya. Subhanallah.

Pos terkait