Mencetak Uang dari Sandal Generasi Berikutnya

Aa1vqmdb
Aa1vqmdb



Sering kali, rasa peka terhadap kebutuhan pasar bisa menjadi awal dari sebuah bisnis yang sukses. Benny Wijaya dan Diswandy adalah contoh nyata dari hal tersebut. Mereka memulai usaha pembuatan sandal khusus pria dengan merek Kingman.

Ketika itu, Benny dan Diswandy melihat bahwa sandal menjadi pilihan utama bagi kaum pria di Indonesia. Namun, mereka merasa bahwa tidak ada sandal yang benar-benar nyaman, fungsional, dan rapi yang bisa digunakan dalam berbagai situasi, baik santai maupun semiformal. Dari situ, mereka memutuskan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.

Sebelum memulai bisnis ini, keduanya bekerja sebagai karyawan. Benny bekerja di bank, sedangkan Diswandy bekerja di industri logistik dan ekspor impor. Namun, mereka merasa ingin mencoba sesuatu yang lebih mandiri.

Untuk memulai usaha, mereka melakukan studi pasar terlebih dahulu. Setelah itu, mereka mengembangkan rantai pasok dan memproduksi seluruh sandal secara mandiri di Jakarta Barat.

Setelah memulai bisnis, mereka membagi tugas. Benny bertanggung jawab atas sistem operasional dan keuangan, sementara Diswandy menangani logistik serta pemasaran digital. Dua tahun pertama, mereka menjalankan semua proses sendiri, mulai dari memotret produk, memproses pesanan, hingga membalas pesan pelanggan. Semua dilakukan sembari tetap bekerja penuh waktu di kantor.

“Kami mengelola bisnis dari malam hingga dini hari, menyusun sistem kerja secara bertahap lewat proses trial and error,” ujar Benny.

Perlahan tapi pasti, usaha Kingman mulai berkembang. Dengan beragam produk sandal yang mereka hasilkan, Benny dan Diswandy berhasil membuat usahanya terus berkembang. Hingga akhirnya, mereka bisa mempekerjakan hingga 60 karyawan di berbagai bidang, menggarap produk yang ditawarkan mulai harga Rp 80 ribuan.

Kingman pun sudah menjangkau sejumlah daerah di Indonesia. “Produk kami juga sudah dinikmati oleh beragam pengguna lintas generasi,” tambah Diswandy.

Memang, Kingman menyasar segmen pasar sandal untuk beragam generasi. Untuk tetap menjaga roda bisnisnya, Diswandy dan Benny terus berupaya membuat sandal yang fungsional dan nyaman. Menurut Diswandy, sandal jenis ini menjadi perhatian atau tren tahun lalu dan bisa berlanjut di tahun ini. Misalnya, clog sandal, tipe alas kaki yang lebih tertutup tapi ringan dan nyaman.

Selain memperluas koleksi sandal, Kingman kini mulai mendiversifikasi produk ke ranah fesyen. Contohnya, memproduksi polo shirt.

Langkah pengembangan ini penting. Tahapan ini, kata Benny, merupakan upaya belajar tanpa henti karena dunia usaha terus berubah dan berkembang.

Lewat hal itu, mereka berharap, bulan puasa dan Lebaran menjadi momen Kingman untuk meraup lonjakan pesanan hingga enam kali lipat dari biasanya.

Pos terkait