Peningkatan Perbaikan Infrastruktur Jalan di Jawa Timur Menjelang Mudik Lebaran
Meningkatnya mobilitas kendaraan menjelang musim mudik Lebaran memicu pemerintah provinsi Jawa Timur untuk segera mengambil langkah-langkah percepatan dalam perbaikan infrastruktur jalan. Langkah ini dilakukan agar jalur transportasi tetap aman dan layak digunakan, terutama karena diperkirakan volume kendaraan akan melonjak signifikan dalam beberapa pekan ke depan.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan bahwa pemerintah daerah menerapkan skema respons cepat dalam menangani jalan berlubang, khususnya pada ruas jalan berstatus provinsi. Melalui kebijakan ini, setiap laporan kerusakan ditargetkan dapat ditangani maksimal dalam waktu 1×24 jam sebagai bentuk komitmen meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Dalam beberapa hari terakhir, Emil turun langsung meninjau sejumlah titik kerusakan jalan, termasuk ruas Kasiyan–Puger di Kabupaten Jember yang selama ini sering dikeluhkan masyarakat. Ia mengakui bahwa kerusakan jalan tidak hanya dipengaruhi faktor usia infrastruktur, tetapi juga beban kendaraan berat yang melintas melebihi kapasitas desain jalan. Menurutnya, spesifikasi standar jalan provinsi sebenarnya telah disesuaikan dengan aturan teknis, namun kondisi di lapangan menunjukkan adanya tekanan besar dari kendaraan logistik bermuatan tinggi. Hal tersebut membuat permukaan jalan lebih cepat mengalami kerusakan, terutama pada wilayah dengan lalu lintas kendaraan berat yang intens.
Pemprov Jatim tetap menegaskan bahwa tanggung jawab perbaikan jalan provinsi tidak boleh diabaikan. Emil menekankan bahwa janji penanganan cepat yang disampaikan gubernur merupakan komitmen nyata pemerintah untuk memberikan layanan infrastruktur yang responsif kepada masyarakat.
Selain jalan provinsi, pemerintah juga turut memantau kondisi jalan nasional yang menjadi jalur strategis mudik, seperti ruas Surabaya menuju Mengkreng arah Kediri. Salah satu segmen yang mendapat perhatian khusus adalah Mojoagung hingga Ring Road Jombang. Dari total panjang jalur sekitar 92 kilometer, sebagian besar berada dalam kondisi baik, namun sekitar 10 kilometer masih mengalami kerusakan.
Emil menjelaskan bahwa tingginya curah hujan menjadi faktor utama munculnya lubang baru di sejumlah titik. Bahkan, dalam satu hari kerusakan dapat bertambah puluhan lokasi. Untuk mengimbangi laju kerusakan tersebut, jumlah tim perbaikan di lapangan ditingkatkan menjadi dua kali lipat, yakni 10 tim yang bekerja secara simultan. Tim tersebut ditargetkan mampu menambal hingga 100 lubang per hari menggunakan metode patching sebagai solusi cepat untuk kerusakan ringan hingga sedang. Namun metode ini hanya efektif dilakukan saat kondisi cuaca mendukung dan tidak terjadi hujan deras.
Pada titik kerusakan berat atau deformasi struktural, pemerintah menerapkan metode rekonstruksi total. Proses ini melibatkan pembongkaran lapisan jalan hingga kedalaman 20–40 sentimeter, penggantian pondasi agregat kelas A, kemudian dilapisi kembali menggunakan aspal emulsi CPHMA agar kekuatan jalan lebih tahan lama. Selama proses pengerjaan berlangsung, pembatasan lalu lintas diberlakukan demi menjaga keselamatan pengguna jalan. Langkah ini dilakukan agar kendaraan tidak melintasi area berbahaya yang sedang dalam tahap perbaikan.
Pemprov Jatim juga menaruh perhatian besar pada jalan regional yang menjadi akses lanjutan pemudik setelah memasuki wilayah kabupaten atau kota. Pemerintah ingin memastikan perjalanan masyarakat tetap nyaman hingga mencapai tujuan akhir. Melalui percepatan perbaikan, penambahan tenaga lapangan, serta rekonstruksi menyeluruh pada titik kritis, Pemprov Jawa Timur menargetkan seluruh jalur mudik berada dalam kondisi mantap sebelum puncak arus Lebaran tiba.
Strategi Penanganan Kerusakan Jalan
- Penanganan Cepat: Setiap laporan kerusakan jalan ditangani dalam waktu maksimal 1×24 jam.
- Peningkatan Tim Lapangan: Jumlah tim perbaikan ditingkatkan menjadi 10 tim yang bekerja secara simultan.
- Metode Patching: Digunakan untuk kerusakan ringan hingga sedang, dengan target menambal hingga 100 lubang per hari.
- Rekonstruksi Total: Diterapkan pada kerusakan berat atau deformasi struktural, melibatkan pembongkakan lapisan jalan hingga kedalaman 20–40 sentimeter.
- Pembatasan Lalu Lintas: Dilakukan selama proses perbaikan untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.





