Karakter Eloise Bridgerton yang Berbeda dari Kebanyakan Perempuan di Era Regency
Eloise Bridgerton, tokoh utama dalam serial Netflix Bridgerton, dikenal sebagai sosok perempuan yang berani dan unik. Ia menjadi salah satu karakter yang dicintai oleh banyak penonton karena sifatnya yang tidak biasa dan keberaniannya dalam menyuarakan pendapat. Eloise sering terlihat tengah membaca buku atau berbincang dengan sahabatnya, Penelope Bridgerton, yang juga merupakan kakak iparnya.
Meskipun hidup di era Regency, dimana perempuan memiliki batasan-batasan tertentu dalam masyarakat, Eloise justru menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan norma saat itu. Ia tidak hanya memperlihatkan kebebasan pikir, tetapi juga memberikan contoh bagaimana seorang perempuan bisa menjadi pribadi yang mandiri dan kritis terhadap sistem yang ada.
1. Eloise Tidak Terlalu Memikirkan Pernikahan
Di abad ke-19, pernikahan sering kali menjadi tujuan utama bagi para perempuan. Mereka lahir untuk menikahi laki-laki sesuai kelas sosial mereka. Namun, Eloise justru menolak untuk terjebak dalam pola tersebut. Ia bahkan menolak untuk didebutkan setelah Daphne menikah, karena ia merasa tidak butuh pernikahan. Baginya, pernikahan bukanlah hal yang harus dicari, apalagi sampai harus menarik perhatian para pelamar.
Perbedaan ini membuat Eloise menjadi sosok yang aneh di mata masyarakat pada masa itu. Ia lebih memilih menjalani kehidupan sendiri daripada mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
2. Eloise Tidak Suka Tuntutan Masyarakat yang Memaksa Perempuan untuk Menikah
Meskipun sudah menolak pernikahan, Eloise dipaksa untuk maju sebagai debutan. Sayangnya, ia tidak memiliki sifat yang cukup elegan untuk menarik minat pelamar-pelamar. Ketika menghadiri pesta bersama ibunya, Violet Bridgerton, Eloise mengungkapkan ketidaksenangannya dengan mengatakan, “Aku seperti anak sapi unggulan, diikat rapi, lalu dipajang seolah siap dilelang.”
Kalimat ini menggambarkan bagaimana perempuan pada masa itu dianggap sebagai objek yang harus dipertemukan dengan calon suami. Eloise melihat bahwa kehidupan perempuan tidak jauh berbeda dari kehidupan hewan yang dipaksa untuk dilelang.
3. Eloise Percaya Bahwa Perempuan Juga Pantas Memimpin Seperti Laki-Laki
Sebelum feminisme berkembang, laki-laki dianggap pantas menjadi pemimpin. Namun, Eloise justru mempertanyakan anggapan ini. Ia mengatakan, “Aku tidak pernah mengerti bagaimana laki-laki dianggap pantas memimpin, padahal perempuan justru lebih sesuai.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Eloise tidak hanya berpikir secara kritis, tetapi juga percaya bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki dalam hal kepemimpinan.
4. Eloise Menganggap Pendidikan Lebih Penting Daripada Kecantikan
Berbeda dengan kakaknya, Benedict Bridgerton, yang mendalami seni lukis, Eloise tidak menerima pendidikan formal. Namun, ia berhasil memperluas wawasan dirinya melalui bacaan. Di era Regency, pendidikan bagi perempuan tidak tersedia, tetapi Eloise tetap memprioritaskan ilmu daripada penampilan fisik.
Menurutnya, pencapaian yang nyata adalah ketika seseorang dapat mengenyam pendidikan tinggi. Ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya berpikir tentang kecantikan, tetapi juga tentang potensi intelektual yang dimiliki oleh perempuan.
Kesimpulan
Tokoh Eloise Bridgerton menjadi salah satu karakter yang sangat menarik dalam serial Bridgerton. Ia tidak hanya gemar membaca, tetapi juga menjadi role model perempuan modern dengan keberaniannya. Meskipun begitu, sikap blak-blakan Eloise dianggap tidak lazim bagi perempuan pada masa Regency. Apakah kamu suka atau tidak suka dengan karakter ini?





