Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadan: Khatam atau Tadabur?
Bulan Ramadan menjadi momen penting bagi umat Islam untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Namun, sering muncul pertanyaan di tengah masyarakat: mana yang lebih utama, memperbanyak khatam atau membaca lebih sedikit tetapi disertai tadabur dan pemahaman makna? Pertanyaan ini dijawab oleh ulama kharismatik, Buya Yahya.
Menurutnya, membaca Al-Qur’an dalam jumlah banyak tetap merupakan kebaikan dan tidak boleh diremehkan. Namun, ia menegaskan bahwa membaca dengan menghadirkan renungan dan pemahaman memiliki nilai yang lebih mendalam.
“Kalau waktunya sama, satu jam misalnya, antara membaca banyak tanpa renungan dan membaca lebih sedikit tapi dengan tadabur, maka yang dengan renungan itu lebih utama,” jelas Buya Yahya. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an tidak hanya diperintahkan untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungi maknanya. Dari proses tadabur itulah lahir rasa takut kepada Allah, bertambahnya ilmu, serta pemahaman yang lebih dalam terhadap firman-Nya.
Meski demikian, Buya Yahya mengingatkan agar tidak meremehkan orang yang memperbanyak tilawah. Menurutnya, memperbanyak bacaan juga sangat dianjurkan, terlebih di bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan Al-Qur’an.
“Kalau perbandingannya dua juz dan lima juz, tentu lima juz lebih banyak dan lebih baik. Tapi perbandingan harus adil. Kalau dibandingkan antara baca tanpa tadabur dan baca dengan tadabur, tentu yang dengan tadabur lebih penting,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena sebagian orang yang cenderung membenturkan dua hal tersebut. Ada yang terlalu menekankan tadabur hingga terkesan meremehkan tilawah yang banyak, sementara yang lain hanya fokus mengejar khatam tanpa menghadirkan penghayatan. Padahal, menurutnya, yang paling ideal adalah menggabungkan keduanya yakni memperbanyak bacaan sekaligus mentadaburi maknanya.
Pentingnya Menggabungkan Tilawah dan Tadabur
Buya Yahya juga mengingatkan agar umat Islam membaca Al-Qur’an dengan tartil, tidak terburu-buru hanya demi mengejar target khataman. Hak-hak huruf dan keindahan bacaan tetap harus dijaga agar pembaca bisa menikmati dan menghayati setiap ayat.
“Kalau bisa banyak bacaanmu dan banyak renunganmu. Tapi kalau harus memilih dalam waktu terbatas, maka merenung jauh lebih penting,” tuturnya.
Dengan demikian, memperbanyak tilawah dan mentadaburi Al-Qur’an sejatinya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipadukan agar ibadah di bulan Ramadan semakin berkualitas dan bermakna.
Tips untuk Membaca Al-Qur’an dengan Baik
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan dalam membaca Al-Qur’an:
-
Membaca dengan tenang dan khusyuk
Hindari membaca dalam keadaan terburu-buru atau terganggu oleh hal-hal lain. Luangkan waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an agar dapat fokus pada maknanya. -
Menggunakan waktu secara efisien
Jika waktu terbatas, pilih membaca sedikit namun dengan tadabur daripada membaca banyak tanpa pemahaman. Fokus pada kualitas, bukan kuantitas. -
Membaca dengan tartil
Pastikan bacaan sesuai dengan tata cara yang benar, termasuk memperhatikan hak-hak huruf dan intonasi. Hal ini akan membantu memahami makna ayat dengan lebih baik. -
Membaca bersama keluarga atau komunitas
Membaca Al-Qur’an bersama orang-orang terdekat dapat memperkuat ikatan spiritual dan meningkatkan motivasi untuk terus belajar. -
Membaca dengan niat yang tulus
Niat adalah kunci dari segala ibadah. Pastikan niat Anda adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan sekadar untuk menyelesaikan target.
Kesimpulan
Buya Yahya menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an dengan tadabur dan pemahaman lebih unggul daripada sekadar memperbanyak bacaan. Namun, ia juga menekankan bahwa kedua hal tersebut tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Dengan menggabungkan keduanya, umat Islam dapat menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.





