Mengapa Suku Bunga Kredit Konsumsi Sulit Turun? Ini Jawaban OJK

Aa1tehef
Aa1tehef



.CO.ID – JAKARTA

Meski suku bunga acuan BI rate sudah banyak dipangkas beberapa tahun terakhir, penurunan suku bunga kredit belum sebesar harapan. Bahkan, suku bunga kredit konsumsi justru tercatat mengalami kenaikan.

Dalam setahun terakhir, BI rate turun sebesar 125 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Namun, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat bahwa transmisi suku bunga kredit hingga akhir tahun lalu masih terbatas. Berdasarkan data yang dirilis, kredit investasi turun 40 bps, kredit modal kerja turun 50 bps, sedangkan kredit konsumsi justru naik 10 bps.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa suku bunga kredit konsumsi memang lebih sulit untuk diturunkan dibandingkan dengan kredit produktif. Hal ini disebabkan oleh perbedaan karakteristik risiko antara kedua jenis kredit tersebut.

Menurut Dian, kredit konsumsi memiliki tenor pendek dan perputaran yang cepat. Pada beberapa produk, tenor bisa hanya berlangsung satu hingga dua minggu.

“Risikonya berbeda. Turnover-nya tinggi dan jangka waktunya pendek-pendek. Itu sangat tergantung pada manajemen risiko masing-masing bank,” ujar Dian kepada awak media, Kamis (26/2/2026).

Selain itu, Dian menyoroti bahwa kredit konsumsi sering kali berkaitan dengan perilaku nasabah, terutama gaya hidup. Produk seperti kartu kredit maupun buy now pay later (BNPL) digunakan untuk fleksibilitas pembayaran. Meskipun sebagian nasabah mampu melunasi pinjaman lebih cepat, mereka tetap memilih metode pembayaran tertentu.

“Ada yang dibayar lunas saat jatuh tempo, ada juga yang tidak. Bahkan ada juga yang memang tidak punya dana cukup,” katanya.

Kondisi ini, lanjut Dian, menjadi pertimbangan dalam menentukan premi risiko yang tercermin dalam suku bunga kredit konsumsi. Semakin tinggi risiko gagal bayar, maka semakin besar pula pencadangan dan biaya risiko yang harus ditanggung bank.

Ia juga menambahkan bahwa di bank digital yang dominan dalam kredit konsumsi, profil risiko yang lebih tinggi menjadi bagian dari model bisnis. Karena itu, ruang penurunan suku bunga kredit konsumsi menjadi lebih terbatas.

“Kalau bank digital, wajar saja karena porsinya memang lebih banyak ke konsumsi, bukan investasi. Yang penting tetap prudent dalam pengelolaan risiko,” pungkasnya.

Pos terkait