Mengenal Ayatollah Alireza Arafi, Pemimpin Baru Iran Setelah Khamenei

Aa1xpbky 1
Aa1xpbky 1

Pemimpin Tertinggi Iran Tewas dalam Serangan AS-Israel

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Peristiwa ini menjadi momen penting dalam sejarah negara tersebut. Setelah kematian Khamenei, pihak berwenang Iran mengumumkan bahwa Ayatollah Alireza Arafi akan menjabat sebagai Pemimpin Transisi.

Perang yang kini meletus antara Amerika Serikat dan Iran telah menjadi sorotan global. Konflik ini memanas setelah AS bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangkaian serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026. Tak lama kemudian, AS dan Israel mengonfirmasi bahwa Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, meninggal dunia dalam serangan tersebut.

Trump, mantan presiden AS, menyampaikan pernyataannya terkait kematian Khamenei. Ia mengatakan, “Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal. Ini bukan hanya keadilan untuk rakyat Iran, tetapi untuk semua rakyat Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia, yang telah dibunuh atau disiksa oleh Khamenei dan gengnya yang kejam.”

Selain Khamenei, putri, menantu, dan cucunya juga turut kehilangan nyawa dalam serangan tersebut. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung selama 40 hari serta memberlakukan 7 hari libur nasional.

Siapa Ayatollah Alireza Arafi?

Ayatollah Alireza Arafi lahir pada tahun 1959 di Meybod, Provinsi Yazd, dari keluarga ulama. Ia menempuh pendidikan agama di Kota Qom, pusat pendidikan ulama Syiah Iran, di bawah bimbingan sejumlah cendekiawan terkemuka. Arafi meraih gelar mujtahid, yang memberinya kewenangan untuk mengeluarkan fatwa atau putusan hukum Islam secara mandiri.

Karier Arafi melesat di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi penting, termasuk menjadi imam shalat Jumat di Meybod dan kemudian di Qom—jabatan yang menunjukkan kepercayaan dari pucuk pimpinan tertinggi. Arafi juga pernah memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa, lembaga strategis yang melatih ulama dari Iran dan berbagai negara lain.

Pada 2019, ia diangkat sebagai anggota Dewan Garda, lembaga konstitusional berpengaruh yang bertugas menyeleksi legislasi dan kandidat politik. Menurut kajian lembaga kajian kebijakan luar negeri Council on Foreign Relations (CFR), kombinasi jabatan administratif dan teologis yang dipegang Arafi menempatkannya “secara kokoh di inti elite ulama Iran.”

Jalur Konstitusional Menuju Kepemimpinan

Berdasarkan Konstitusi Iran, pemimpin tertinggi harus merupakan ulama Syiah senior yang dipilih oleh Majelis Ahli, badan terpilih yang terdiri dari para ulama. Setelah wafatnya Khamenei, Teheran terlebih dahulu membentuk dewan kepemimpinan sementara untuk menjalankan fungsi-fungsi utama hingga Majelis Ahli menetapkan pemimpin tertinggi yang baru.

Penunjukan Arafi sebagai Pemimpin Transisi Iran terjadi di tengah perbincangan sejumlah nama lain yang muncul di ruang publik dan media pemerintah sebagai calon penerus Khamenei, baik dari kalangan garis keras maupun ulama yang lebih pragmatis. Namun, posisinya di Dewan Garda dan Majelis Ahli memberinya keunggulan institusional saat keputusan suksesi diambil.

Pandangan dan arah kepemimpinan Arafi dikenal vokal mengenai peran lembaga Pendidikan agama dan ulama dalam mempromosikan Islam Syiah yang aktif secara politik. Dalam pernyataan sebelumnya, ia menegaskan, “Lembaga Pendidikan agama (di Iran) perlu berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis [Islamis], revolusioner, dan internasional (dalam pendekatan).”

Transisi Kepemimpinan di Teheran

Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran hampir 37 tahun, tewas pada 28 Februari 2026 dalam serangan gabungan AS–Israel. Peristiwa itu memicu proses suksesi sekaligus masa berkabung nasional. Kenaikan Arafi sebagai Pemimpin Transisi Iran menjadi kali kedua peralihan kepemimpinan tertinggi sejak Revolusi 1979.

Momen ini menjadi ujian penting bagi kerangka politik Iran dan kemampuannya menjaga kohesi di bawah tekanan kondisi regional dan global. Meski Arafi memiliki pengalaman luas dalam birokrasi keagamaan Iran dan kredensial kuat di lingkaran elite, ia tidak memiliki basis politik independen di luar struktur institusional tersebut. Faktor ini dinilai dapat memengaruhi gaya kepemimpinannya di tengah konflik eksternal dan ketidakpastian internal.

Pos terkait