Dengan senyum ramah, Begum Kocer meletakkan satu demi satu hidangan yang sudah ditata di atas piring dan mangkuk di atas meja kayu panjang Grandma’s Velvet Cafe, Distrik Balat, Istanbul, pada Rabu pagi, 12 Februari 2026. Wanita berambut pendek asal Turki ini menyajikan setiap hidangan secara perlahan, penuh perhatian—seolah setiap piring membawa cerita.
Di atas meja besar dengan delapan kursi tersusun hidangan sarapan khas Turki, terdiri dari roti gandum hangat, salad sayuran, telur dadar, irisan daging, dan sekitar 20 jenis bumbu serta saus tradisional yang menjadi jiwa dari sarapan dan santapan rumahan Turki.
Ragam Bumbu dan Saus Khas
Ketika Begum menyajikan hidangan, pemilik Grandma’s Velvet Cafe, Yuksel Kuvul, menjelaskan dengan detail setiap hidangan yang disajikan. Pria ini juga tak lupa memberitahu bagaimana cara menyantap makanan khas Turki tersebut sebelum kami mulai mencicipi.
Salah satu jenis sambal yang disajikan adalah ezme, terbuat dari tomat, paprika merah, bawang, dan cabai, dicincang halus dengan minyak zaitun dan perasan lemon. Rasanya segar, pedas, dan sedikit asam. Ada juga haydari, yogurt kental dicampur bawang putih dan daun dill, lembut serta menyegarkan. Adapun cack mirip haydari namun lebih cair, dengan potongan mentimun dan minyak zaitun. Jenis lainnya yakni tahini (tahin), pasta wijen lembut, biasanya dipadukan dengan madu. Pekmez terbuat dari sirup anggur kental, legit dan sedikit asam. Domates salcas adalah pasta tomat pekat, dasar banyak masakan Turki, ada juga saus seperti potongan buah nanas yang rasanya asam, asin dan segar. Masih banyak lagi ragam bumbu dan saus yang disajikan, semuanya tertata rapi dalam piring berukuran kecil dan gelas.
Menyantap Bertahap, Menikmati Setiap Rasa
Ketika roti gandum dicelupkan ke ezme, ledakan rasa pedas dan segar langsung terasa. Kemudian haydari yang lembut menenangkan lidah. Tahini dicampur pekmez menghadirkan perpaduan manis dan gurih yang khas.
Telur disajikan sederhana, namun ketika dipadukan dengan biber salcas dan chili oil, rasanya berubah menjadi kaya dan kompleks. Irisan daging sapi berbumbu (sucuk dan potongan daging panggang) semakin nikmat dengan taburan thyme dan perasan nar eksisi.
Setiap suapan menghadirkan lapisan rasa, mulai dari asam, manis, gurih, pedas, dan smokey. Sensasinya bukan sekadar makan, tapi merasakan sejuta rasa dari perpaduan hidangan utama dengan aneka bumbu dan saus tersebut. Selain terasa lezat, hidangan khas Turki ini dari bahan alami dan segar. Bahan makanan terlihat segar dan sehat untuk dikonsumsi. Jus jeruk, teh hitam khas Turki adalah minuman yang menemani kudapan yang kami santap.
Setelah menyantap hidangan, Begum memberikan secangkir kopi hitam panas sebagai penutup santapan pagi itu.
Konsep Keluarga yang Diwariskan
Velvet Cafe adalah satu dari banyak sekali tempat makan yang menyediakan hidangan khas Turki di Distrik Balat. Yuksel Kuvul menjelaskan bahwa konsep Grandma’s Velvet Cafe adalah menghadirkan resep keluarga yang diwariskan turun-temurun. “Kami ingin tamu merasakan bagaimana nenek-nenek di desa Turki memasak untuk keluarganya,” ujarnya dalam Famtrip AirAsia X-Turkiye Tourism (@goturkiye) pada Kamis, 12 Februari 2026.
Nama “Grandma’s” dipilih sebagai penghormatan pada tradisi memasak rumahan yang sederhana namun penuh cinta. Menurut Yuksel, rempah diracik sendiri, saus dibuat segar setiap pagi. Tidak ada yang instan. Semua disiapkan dengan metode tradisional.
Ia juga bercerita bahwa Velvet Cafe awalnya hanya ruang kecil untuk menyajikan sarapan bagi warga lokal Galata. Namun karena cita rasanya autentik, wisatawan mancanegara mulai berdatangan. Kini, kafe itu menjadi salah satu tempat favorit untuk menikmati Turkish breakfast autentik di kawasan tersebut.
Sejarah Balat Distrik
Balat adalah salah satu lokasi paling menakjubkan di Istanbul, dengan warisan sejarah yang kaya dan bangunan-bangunan megah. Lorong-lorong curam Balat, yang dipenuhi rumah-rumah bersejarah dengan jendela oriel, memiliki struktur arsitektur mengesankan yang menggabungkan masa lalu dan masa depan.
Saat di distrik ini, terasa masa lalu dan masa kini berpadu dalam jalan-jalan yang berwarna-warni dan berliku-liku. Kafe dan butik desainer generasi ketiga berdampingan dengan taman teh tradisional dan toko-toko kerajinan. Balat juga penuh dengan toko barang bekas yang unik, pedagang barang antik, dan juru lelang.
Distrik ini dipadati bangunan seperti Sinagoge Ahrida, Sinagoge Yanbol, Kucuk Mustafa Pasa Hamam (Pemandian Turki), dan Gereja Sveti Stefan Bulgaria yang megah (Gereja Besi).
Menurut pemandu wisata dari Turkiye Tourism Promotion and Development Agency (TGA), Aret, distrik ini memiliki sejarah panjang sejak era Bizantium. Pada abad ke-13, wilayah ini menjadi koloni pedagang Genoa dari Italia. “Mereka membangun benteng dan menara pengawas yang kini dikenal sebagai Galata Tower,” kata Aret.





