Mengenal Pohon Sala, Asal Usul Nama Kota Solo

Sekaten 1 20161205 121523
Sekaten 1 20161205 121523

Asal Usul Nama Kota Solo dan Misteri Pohon Sala

Kota Solo, yang kini dikenal sebagai Surakarta, memiliki sejarah yang sangat kaya akan makna dan simbol. Salah satu aspek menarik dalam sejarah kota ini adalah asal usul nama “Solo” yang diduga berkaitan dengan pohon sala. Meski begitu, perdebatan mengenai spesies asli pohon ini masih terus berlangsung hingga saat ini.

Sejarah Pohon Sala dan Lahirnya Kota Solo

Secara administratif, kota ini dikenal sebagai Surakarta. Nama ini berasal dari berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwono II pada tahun 1745. Namun sebelum menjadi pusat kerajaan, wilayah ini dikenal sebagai Desa Sala yang dipimpin oleh Ki Gedhe Sala. Dari sini muncul pertanyaan: apakah nama “Sala” berasal dari nama tokoh atau dari pohon yang tumbuh di wilayah tersebut?

Berdasarkan beberapa pustaka kuno seperti Babad Sengkala dan Babad Tanah Jawi, kemungkinan besar kata “Sala” merujuk pada pohon yang banyak tumbuh di daerah itu. Selain itu, perubahan pelafalan dari “Sala” menjadi “Solo” diduga terjadi karena pengaruh bahasa Belanda yang lebih mudah menyebutkan “Solo”.

Konon, sungai yang ada di wilayah ini dulu disebut Bengawan Semanggi. Setelah pusat kerajaan pindah ke Desa Sala, nama sungai tersebut berubah menjadi Bengawan Solo.

Jenis-Jenis Pohon Sala yang Diperdebatkan

Perdebatan tentang spesies pohon sala yang sebenarnya terus berlangsung. Ada tiga jenis tanaman yang sering disebut sebagai pohon sala:

  • Shorea robusta

    Pohon ini berasal dari India hingga Nepal dan termasuk dalam famili Dipterocarpaceae. Bunganya berwarna putih atau kuning keemasan. Dalam tradisi Hindu-Buddha India, pohon ini diyakini sebagai pohon sala.

  • Couroupita guianensis

    Dikenal juga sebagai pohon kanon (cannon ball tree) karena buahnya bulat besar seperti peluru meriam. Bunganya berwarna merah kekuningan. Di Asia Tenggara, pohon ini sering disebut sebagai sala dan ditanam di kawasan kuil Buddha.

  • Pinus mercusii

    Di Aceh, pohon ini disebut sebagai pohon sala. Bunganya berwarna cokelat dan memiliki ciri yang berbeda dibanding dua jenis lainnya.

Pohon Sala yang Ada Saat Ini

Pohon sala yang kini tumbuh di kawasan Keraton Surakarta dan beberapa titik di Solo adalah jenis Couroupita guianensis. Universitas Sebelas Maret (UNS) bahkan menanam pohon jenis ini di kampus Kentingan. Pada tahun 2011, Pemkot Solo juga menanam 18 batang pohon sala di sejumlah lokasi strategis, termasuk Loji Gandrung dan kawasan kampus UNS.

Namun, budayawan Hendramasto berpendapat bahwa jika merujuk pada konteks sejarah Hindu-Buddha, Shorea robusta lebih tepat disebut sebagai pohon sala yang menjadi asal nama Solo. Ia menunjukkan bahwa pohon di Sitihinggil memiliki ciri bunga putih yang mirip dengan Shorea robusta.

Perbedaan ini juga terjadi di negara lain. Dalam tradisi Buddha di Asia Tenggara, sala sering diidentikkan dengan Couroupita guianensis, meskipun dalam kitab Sanskerta disebut sebagai Shorea robusta.

Keberadaan Pohon Sala Saat Ini

Beberapa pohon sala masih dapat ditemukan di kawasan Sitihinggil Keraton Surakarta. Pohon tersebut berdiri di belakang Pagelaran, memayungi area yang diyakini sebagai bekas pusara Ki Gede Sala. Meski kini tak lagi berbunga, keberadaan pohon itu menjadi simbol sejarah panjang Kota Solo.

Saat Kota Solo merayakan hari jadinya, kisah pohon sala kembali mengingatkan warga pada akar sejarah kota mereka. Pertanyaannya tetap sama: mana pohon sala yang sesungguhnya? Apakah Shorea robusta dengan bunga putihnya, Couroupita guianensis dengan bunga merah menyala, atau Pinus mercusii?

Hingga kini, perdebatan itu masih terus bergulir.

Pos terkait