Mengenal Sifat Tuhan

1710538066 2
1710538066 2

Membentuk Karakter dengan Meneladani Sifat Tuhan

Salah satu hikmah terpenting dalam berpuasa adalah mencontoh dan meneladani sifat-sifat Tuhan. Nabi pernah bersabda:

“Takhallaqu bi akhlaqillah” (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT).

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan beberapa sifat-Nya, seperti:

“Huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (QS: 6:14), dan “Lam takun lahu shahibah” (Tuhan tidak memiliki pasangan) (QS: 6:101).

Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan proses spiritual yang membawa manusia lebih dekat kepada Tuhannya. Semakin dekat jarak seorang hamba dengan Tuhannya, semakin mulia hamba itu.

Di dalam berpuasa, kita tidak boleh makan, minum, atau berhubungan seks, tetapi kita diwajibkan untuk berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Harapan kita dengan menjalankan ibadah puasa adalah mencapai kualitas muttaqin (orang-orang takwa), suatu kualitas spiritual yang paling mulia dan didambakan setiap orang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: Al-Baqarah/2:183).

Kata muttaqin dalam ayat tersebut bukan hanya sekadar takut kepada Allah SWT, karena Allah SWT diperkenalkan melalui al-asma’ al-husna-Nya sebagai Tuhan Maha Pencinta dan Maha Penyayang. Manusia satu-satunya yang ditegaskan diciptakan dengan kedua tangan-Nya: Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS: Shad/38:75).

Seluruh makhluk lain, termasuk malaikat, tidak ada penegasan seperti ini. Seolah-olah manusia adalah ciptaan langsung (hand made) Allah SWT. Makna “kedua tangan Tuhan” dibahas panjang lebar dalam kitab-kitab tafsir dan tasawuf, yang intinya Tuhan memiliki dua kekuatan: kekuatan maskulin (jalaliyyah) dan kekuatan feminim (jamaliyyah). Kedua “Tangan Tuhan” digambarkan dalam nama-nama indah-Nya yang dikenal dengan al-Asma’ al-Husna.

Pentingnya Menginternalisasi Nama-Nama Tuhan

Internalisasi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW sangat penting. Dalam perspektif tasawuf, al-asma’ al-husna tidak hanya menunjukkan sifat-sifat Allah SWT, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mengakses dan mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut.

Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga tetap memiliki harapan dan tidak perlu kehilangan semangat hidup.

Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan? Bukankah pada setiap surah dalam Al-Qur’an selalu diawali dengan Bismillah al-rahman al-rahim, yang intinya menonjolkan kemahapengasihan (rahmaniyyah) dan kemahapenyayangan (rahimiyyah) Tuhan?

Ramadan, Bulan yang Penuh Rahmat

Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan ialah menganugrahkan bulan Ramadan (secara harfiyah: penghancur, penghangus). Setelah 11 bulan hambanya terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan (power struggle), maka dalam bulan Ramadlan ini kita diajak untuk kembali ke kampung halaman rohani, yang basah dan menyejukkan, serta penuh dengan suasana lembut (nurturing).

Bulan puasa ibarat oasis yang siap memberi kepuasan spiritual kepada orang yang menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati. Agak aneh memang, Tuhan yang sedemikian lembut menampilkan diri-Nya, ayat-ayat Al-Qur’an sedemikian santun menyapa anak manusia, dan Nabi Muhammad Saw tampil sedemikian menawan, lebih menonjolkan sikap-sikap kelembutan dan kesantunan. Namun, umat Islam sebagian bertentangan perilakunya dengan sifat-sifat yang dilakukan Nabi dan Tuhan.

Islam tidak pernah menolerir pemeluknya melakukan tindakan kekerasan, bukan kepentingan diplomasi tetapi kekerasan itu sendiri tidak sejalan dengan sifat-sifat utama Tuhan, sebagaimana diperkenalkan dalam al-asma’ al-husna-Nya.

Pos terkait