JAKARTA – Kenaikan harga minyak mentah dunia yang tajam akibat ketegangan antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran memengaruhi kinerja saham perusahaan migas di Indonesia. Peristiwa ini berdampak langsung pada sejumlah emiten yang terkait dengan sektor energi.
Serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada hari Sabtu (28/2/2026) mengakibatkan lonjakan harga minyak global sebesar 9% menjadi US$73 per barel saat perdagangan dibuka pada Senin (2/3/2026). Angka ini merupakan kenaikan terbesar dalam delapan bulan terakhir. Dampak dari kenaikan harga minyak tersebut juga terasa pada pasar modal Indonesia, khususnya saham-saham perusahaan migas.
Beberapa emiten migas seperti MEDC, ENRG, ELSA, RAJA, dan AKRA mengalami penguatan di sesi pertama perdagangan Senin (2/3/2026). Meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lebih dari 1%, saham-saham tersebut justru naik. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap harga minyak global memberikan dorongan kuat bagi sektor migas.
Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, penguatan saham emiten migas sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak global. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak saat ini disebabkan oleh eskalasi konflik antara AS dan Iran serta risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
“Selama risiko pasokan tetap tinggi dan sentimen bullish terhadap energi berlanjut, penguatan saham migas berpotensi terus berlangsung. Namun, tidak menutup kemungkinan adanya volatilitas jangka pendek,” ujar Abida kepada Bisnis, Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga saham saat ini lebih mencerminkan risk premium akibat gangguan pasokan, bukan perubahan fundamental jangka panjang. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan aspek fundamental perusahaan, seperti cadangan minyak, kapasitas produksi, biaya operasional, dan kontrak jangka panjang untuk memastikan valuasi saham tetap masuk akal jika sentimen geopolitik mereda.
Berdasarkan rekomendasi dari BRI Danareksa Sekuritas, saham-saham migas yang sensitif terhadap harga minyak global seperti MEDC, ENRG, RAJA, dan AKRA masih menarik untuk diperhatikan. Strategi investasi yang disarankan adalah melakukan entry on strength saat sentimen positif, sambil menetapkan target harga dan stop loss yang jelas.
Investor juga diminta untuk menyesuaikan horizon investasi antara jangka pendek untuk momentum dan jangka menengah jika fundamental mendukung, guna mengelola risiko volatilitas pasar.
Dari data pasar hingga sesi I perdagangan hari ini, IHSG melemah sebesar 1,60% atau 131,77 poin ke posisi 8.103. Sebanyak 682 saham bergerak di zona merah, hanya 113 saham yang menguat, dan 163 saham belum berubah. Ketika semua indeks sektoral terkoreksi, IDXENERGY menjadi satu-satunya indeks yang menguat, yaitu sebesar 1,60% atau 66,78 poin ke 4.247.
Saham konstituen emiten subsektor migas kompak menguat. Contohnya, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) naik 5,80% ke Rp1.825. Level harga MEDC mencerminkan kenaikan 35,69% secara year to date (YtD).
Berikutnya, saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menguat 14,20% ke Rp2.010, atau menguat 25,62% secara YtD. Selanjutnya, saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) naik 7,65% ke Rp915, level harga yang mencerminkan lompatan 83,73% secara YtD.
Selanjutnya, saham emiten terafiliasi Happy Hapsoro PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) menguat 5,56% ke Rp4.750. Penguatan sampai sesi I perdagangan ini menopang laju RAJA yang sejak awal tahun terkoreksi 22,13% YtD.
Sementara itu, saham emiten migas yang bermain di sektor hilir dan perdagangan BBM, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) juga menguat 2,70% ke Rp1.330. Secara YtD, harga saham AKRA telah menguat 5,56%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





