Mentan Pastikan Ketersediaan Bahan Pokok Nasional Lancar Saat Lebaran

Bb1pdyob
Bb1pdyob

Stok Bahan Pokok Strategis Aman dan Surplus Jelang Lebaran

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa stok bahan pokok strategis secara nasional dalam kondisi aman dan surplus menjelang Lebaran 1447 Hijriyah. Produksi dan cadangan yang memadai diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.

“Ketersediaan dan stabilitas bahan pokok masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H dalam kondisi aman dan terkendali, baik secara nasional maupun di tingkat daerah,” ujar Amran sebagaimana keterangannya di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Dia menyebutkan berdasarkan data Neraca Pangan dan Proyeksi Produksi hingga April 2026, mayoritas komoditas strategis berada dalam posisi surplus. Saat ini stok beras nasional mencapai sekitar 3,5 juta ton dan diproyeksikan terus meningkat seiring panen raya serta tren produksi yang naik sekitar 15 persen hingga Maret ini.

“Kalau tren ini bertahan sampai akhir bulan, hampir pasti stok kita tembus 6 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama kita merdeka. Kalau konsisten hingga akhir tahun, potensi surplus diperkirakan bisa mencapai sekitar 9 juta ton,” ujar Amran.

Dia memastikan stok komoditas tersebut secara nasional dalam kondisi surplus dan kuat menjaga stabilitas pasokan serta harga di masyarakat. Selanjutnya, komoditas lain seperti jagung juga menunjukkan kinerja positif, dengan ketersediaan 10,751 juta ton, sedangkan kebutuhan 5,899 juta ton, menghasilkan surplus 4,852 juta ton.

Kemudian gula konsumsi tercatat surplus 595 ribu ton, cabai besar surplus 74 ribu ton, dan cabai rawit surplus 105 ribu ton. “Insya Allah, menjelang Lebaran 2026 kebutuhan pokok aman. Beras, jagung, gula konsumsi cukup. Masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.



Pedagang menunjukkan minyak goreng Minyakita di Pasar Rumput, Jakarta. – (/Prayogi)

Tak hanya itu, beberapa komoditas bahkan telah masuk kategori ekspor. Minyak goreng mencatat surplus 3,556 juta ton, daging ayam surplus 728 ribu ton, telur ayam surplus 349 ribu ton, serta bawang merah surplus 57 ribu ton.

“Minyak goreng kita surplus besar. Ayam dan telur juga lebih dari cukup. Ini bukti bahwa produksi dalam negeri kuat dan mampu menopang kebutuhan nasional, bahkan untuk ekspor,” ujarnya.

Mentan menambahkan, pemerintah terus melakukan pengawalan produksi, distribusi, serta penguatan stok di seluruh wilayah, terutama menjelang momentum peningkatan konsumsi saat Ramadhan dan Idul Fitri.

“Petani kita kawal, penyuluh di lapangan sudah kami kerahkan. Ini kami pantau harian. Jadi, stok ada, produksi jalan, distribusi kita kawal. Target kita sederhana, Lebaran tenang, harga stabil, masyarakat tersenyum,” tutur Amran.

Jakarta sebagai pusat konsumsi dan barometer harga nasional juga menunjukkan pasokan pangan strategis dalam kondisi aman. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini menunjukkan kesiapan menyambut Idul Fitri 2026 dengan kondisi pasokan yang kuat, distribusi terjaga, serta harga tetap stabil.

Pemerintah optimistis momentum Ramadhan dan Lebaran tahun ini dapat dilalui dengan tenang tanpa gejolak pasokan maupun lonjakan harga yang meresahkan masyarakat.

Kenaikan Harga Pangan

Meski stok bahan pokok aman, namun harga kebutuhan pokok juga menunjukkan kenaikan pada awal Ramadhan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari 2026 sebesar 0,68 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahun kalender (year-to-date/ytd), inflasi tercatat 0,53 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan lonjakan harga pangan menjadi pendorong utama inflasi bulan lalu. “Tingkat inflasi month-to-month pada Februari 2026 sebesar 0,68 persen, sedangkan tingkat inflasi year-to-date sebesar 0,53 persen,” ujar Ateng dalam Taklimat Media di Jakarta, Senin.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,54 persen dengan andil 0,45 persen terhadap inflasi bulanan. Komoditas yang paling banyak menyumbang kenaikan harga adalah daging ayam ras (0,09 persen), cabai rawit (0,08 persen), ikan segar (0,05 persen), cabai merah (0,04 persen), serta tomat, beras, dan telur ayam ras masing-masing 0,02 persen.

Kenaikan harga ini dirasakan langsung masyarakat, terutama menjelang dan saat Ramadhan ketika konsumsi rumah tangga meningkat. Secara historis, BPS mencatat momen Ramadhan hampir selalu diikuti tekanan inflasi dari bahan pangan bergejolak.



Pedagang menata cabai dagangannya di Tebet Barat, Jakarta. – (/Prayogi)

Selain pangan, emas perhiasan juga memberi andil cukup besar, yakni 0,19 persen. Harga emas dunia yang terus menanjak mendorong inflasi komponen inti. Tercatat, emas perhiasan mengalami inflasi bulanan 8,42 persen dan telah naik selama 30 bulan berturut-turut.

Secara komponen, inflasi Februari terutama didorong harga bergejolak yang naik 2,50 persen dengan andil 0,41 persen. Sementara komponen inti mengalami inflasi 0,42 persen dan harga yang diatur pemerintah justru mencatat deflasi tipis 0,03 persen, antara lain karena penurunan harga bensin.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Februari 2026 mencapai 4,76 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Januari yang sebesar 3,55 persen. BPS menjelaskan kenaikan tahunan dipengaruhi faktor basis rendah (low base effect) akibat diskon tarif listrik pada Januari–Februari 2025.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tahunan 16,19 persen dengan andil 2,26 persen, terutama dari tarif listrik yang kembali normal. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga melonjak 16,66 persen, dipicu kenaikan harga emas perhiasan.

Dari sisi wilayah, sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi dan lima provinsi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Selatan sebesar 1,04 persen, sedangkan deflasi terdalam di Papua Barat sebesar 0,65 persen.

Pos terkait