Kenaikan Harga BBM Akibat Konflik Timur Tengah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, serta respons agresif dari Iran, berpotensi meningkatkan harga bahan bakar minyak atau BBM. Konflik di kawasan Timur Tengah ini bisa menyebabkan gangguan dalam pasokan minyak global.
“Secara otomatis akan terjadi kenaikan, seperti yang terjadi saat perang Ukraina dulu. Namun kali ini, pasokan dari Amerika juga akan meningkat, begitu pula dengan kapasitas OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi),” ujar Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/3).
Ia menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan minyak. Pemerintah akan terus memantau perkembangan konflik tersebut agar bisa segera merespons jika diperlukan.
Airlangga menegaskan bahwa pemerintah telah memiliki rencana cadangan untuk mendapatkan pasokan minyak dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah. “Misalnya, Pertamina telah membuat MoU dengan beberapa perusahaan asal Amerika seperti Chevron dan Exxon, serta yang lainnya,” tambahnya.
Perkembangan Ekspor CPO dan Inflasi
Pada Januari 2026, ekspor Crude Palm Oil (CPO) melonjak sebesar 59,6%, sementara harga mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Di sisi lain, inflasi pada Februari mencatat angka sebesar 0,68%, dipengaruhi oleh kenaikan harga daging ayam hingga cabai.
Kemungkinan Impor Minyak Rusia
Ketika ditanya apakah pemerintah akan mempertimbangkan impor minyak dari Rusia, Airlangga tidak menutup kemungkinan hal tersebut. “Ya, kita akan memantau mana saja sumber minyak yang tersedia dan bisa diimpor,” katanya.
Dampak Lain dari Konflik
Selain pasokan minyak, Airlangga juga menyebutkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah dapat memengaruhi transportasi logistik dan sektor pariwisata. Pemerintah akan terus memantau situasi secara keseluruhan agar dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat.





