Pemerintah sedang melakukan perubahan signifikan dalam peta perdagangan ritel di wilayah pedesaan. Kementerian Koperasi mengajak jaringan ritel modern seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), yang dikenal sebagai pengelola Alfamart dan Indomaret, untuk tidak lagi membuka gerai baru di daerah desa. Hal ini juga berlaku bagi jaringan ritel modern lainnya.
Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih agar menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa. Tujuan utama pemerintah adalah agar koperasi dapat memainkan peran utama dalam distribusi barang kebutuhan sehari-hari di tingkat lokal.
“Saya pernah ketemu dengan pemilik ritel modern yang sebelah sana, saya bilang stop bikin ritel modern di desa, biarkan di desa itu si koperasi desa yang jualan retail barang-barangnya,” ujar Ferry dalam kanal YouTube IDN Times, dikutip Jumat (20/2).
Ferry menilai bahwa terdapat perbedaan mendasar antara ritel modern dan koperasi desa, khususnya dalam hal aliran keuntungan. Jika gerai modern beroperasi di desa, keuntungan usaha cenderung lebih banyak mengalir ke pemegang saham di kota besar. Sebaliknya, koperasi memungkinkan perputaran uang tetap berada di lingkungan desa dan dinikmati kembali oleh masyarakat setempat.
Meski demikian, pemerintah tidak sepenuhnya menutup ruang bagi ritel modern. Produk-produk yang belum dapat diproduksi koperasi tetap bisa dipasok oleh peritel besar. Di saat yang sama, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa didorong untuk memproduksi kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, deterjen, kecap, saus, hingga sambal. Pemerintah menjanjikan dukungan ekosistem, mulai dari kurasi hingga pembiayaan, guna mempercepat terbentuknya koperasi produktif yang dikelola generasi muda.
Akselerasi 80 Ribu Kopdes Merah Putih
Sejalan dengan imbauan tersebut, pemerintah tengah mempercepat pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Ferry sebelumnya menyampaikan bahwa lebih dari 60 ribu unit koperasi akan dibangun menggunakan desain tunggal, sementara sekitar 20 ribu unit lainnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing desa.
Model desain tunggal dipilih untuk mempercepat pembangunan fisik. Pemerintah menargetkan proses konstruksi setiap koperasi rampung dalam tiga bulan agar dapat mulai beroperasi pada Maret–April 2026.
“Setelah kami memulai konstruksi pada tanah dengan standar yang ideal, kami baru akan membangun bangunan fisik sesuai dengan kondisi geografis dan karakter masing-masing desa,” kata Ferry dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR beberapa waktu lalu.
Standar lahan yang disiapkan minimal seluas 1.000 meter persegi dan berada di titik strategis desa. Tahun ini, pembangunan dimulai untuk 25.000 unit dan ditargetkan meningkat menjadi 60.000 unit pada bulan berikutnya. Pemerintah juga telah memetakan desa-desa yang tidak dapat menggunakan desain tunggal dari PT Agrinas Pangan Nusantara.
Respons Pasar Saham
Pernyataan Ferry soal pembatasan pembukaan ritel modern di desa beriringan dengan pelemahan harga saham kedua emiten. Saham AMRT ditutup turun 4,21% atau 80 poin ke level 1.820 dan telah melemah 7,85% sejak awal tahun.
Sementara itu, saham DNET terkoreksi 1,66% atau 150 poin ke posisi 8.875 dengan penurunan 2,20% secara year to date (ytd). Adapun dalam perdagangan 6 bulan terakhir saham DNET turun 4,6%.
Dari sisi jaringan usaha, hingga Januari 2026 Alfamart tercatat mengoperasikan lebih dari 21.120 gerai yang tersebar melalui 34 kantor cabang di seluruh Indonesia. Adapun Indomaret memiliki lebih dari 23.100 gerai per awal 2025.





