Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Mengenai Kondisi Ayatollah Ali Khamenei
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Ayatollah Ali Khamenei masih hidup. Pernyataan ini disampaikan sebagai bantahan terhadap beredarnya kabar yang menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran tersebut tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran, pada Sabtu (28/2/2026).
Dalam sebuah wawancara dengan NBC News, Araghchi mengungkapkan bahwa dua komandan telah tewas, tetapi pejabat senior rezim lainnya selamat, termasuk kepala lembaga peradilan dan ketua parlemen. “Semua pejabat tinggi masih hidup. Jadi semua orang saat ini berada di posisinya masing-masing, dan kami menangani situasi ini, semuanya baik-baik saja,” tegasnya.
Araghchi juga mengkritik AS dan Israel karena melancarkan serangan di tengah berlangsungnya negosiasi nuklir. Hal senada juga disampaikan oleh media pro-pemerintah Iran yang membantah rumor kematian Khamenei, meskipun tidak memberikan informasi konkret mengenai kondisi kesehatan atau keberadaannya.
Penyiaran negara Iran, IRIB, mengutip sumber yang dekat dengan kantor Khamenei yang menyatakan bahwa ia ‘memimpin situasi dengan tegas’. Sementara itu, kantor berita semi-resmi Tasnim dan Mehr menyatakan, pemimpin berusia 87 tahun itu ‘teguh dan kuat memimpin di lapangan’.
Menurut Tasnim, Khamenei tetap aktif mengawasi keputusan militer dan politik di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Sebelumnya, sejumlah media Israel melaporkan bahwa Ali Khamenei telah tewas dengan mengutip pejabat Israel. Mereka juga melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah diperlihatkan bukti, termasuk foto jenazah Khamenei yang disebut ditemukan dari reruntuhan bangunan.
Saluran berita Israel i24 menyatakan terdapat rekaman yang jelas dan tak terbantahkan yang menunjukkan jenazah Khamenei, dan mungkin akan dipublikasikan di masa mendatang. Kantor berita Reuters dan Axios, turut mengutip pejabat Israel yang mengonfirmasi, berdasarkan laporan intelijen, Khamenei telah tewas.
Pernyataan Netanyahu dan Trump
Dalam pernyataan terbarunya, Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran hari ini ‘akan membawa pada perdamaian sejati’ sembari mengisyaratkan bahwa Khamenei kemungkinan telah tewas. “Rencana untuk menghancurkan Israel sudah tidak ada dan ada banyak tanda, tiran Khamenei pun sudah tidak ada lagi,” ujar Netanyahu, dikutip dari nbcnews.com.
Netanyahu menjadi pejabat pertama yang menyampaikan komentar semacam ini terkait status Khamenei sejak serangan dimulai. Namun, pernyataannya tidak secara tegas menyatakan bahwa Khamenei telah meninggal dunia. Ia juga tidak menyampaikan bukti untuk mendukung klaim tersebut.
Netanyahu juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Donald Trump ‘atas kepemimpinan bersejarahnya.’ Di sisi lain, Trump dalam wawancara dengan NBC News ikut menanggapi laporan tersebut dengan mengatakan, “Kami merasa itu adalah cerita yang benar.” Ia menambahkan, ‘sebagian besar’ pimpinan senior Iran ‘sudah tidak ada.’
“Orang-orang yang membuat semua keputusan, sebagian besar dari mereka sudah tidak ada,” kata Trump tanpa menyebutkan angka pasti. Ketika ditanya siapa yang akan menggantikan Ali Khamenei, Trump menjawab, “Saya tidak tahu, tetapi pada suatu saat, mereka akan menelepon saya untuk menanyakan siapa yang saya inginkan.”
Kediaman Khamenei Hancur Total
Sebelumnya diberitakan, kediaman Ali Khamenei di Teheran, Iran hancur total akibat serangan Angkatan Udara Israel, menurut citra satelit dari Airbus Defence and Space yang diperoleh New York Times. Citra satelit berfokus tepat pada kompleks Beit-e Rahbari, kediaman resmi, kantor administrasi, dan kompleks pertemuan utama Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun.
Bukti visual menegaskan bahwa koordinat grid spesifik ini ditetapkan sebagai target prioritas “Tier 1” selama serangan pembuka ofensif gabungan. Citra tersebut mengungkapkan kerusakan dahsyat yang menampilkan struktur yang terdiri dari kediaman langsung Khamenei dan perimeter keamanan di sekitarnya telah rata dengan tanah.
Para analis yang meninjau foto-foto tersebut menunjukkan bahwa pola kawah dan ledakan konsisten dengan penggunaan amunisi penghancur bunker yang menembus jauh ke dalam, yang dirancang menghancurkan fasilitas bawah tanah yang diperkuat di bawah bangunan permukaan.
Pemblokiran Media
Jaringan televisi pemerintah Iran dan kantor berita semi-resmi seperti Fars dan Tasnim saat ini memberlakukan pemblokiran media yang ketat terkait status Ayatollah Ali Khamenei.

Program siaran sebagian besar telah beralih ke penayangan rekaman arsip keagamaan, musik patriotik, dan tayangan ulang peluncuran rudal balasan. Belum ada ‘bukti keberadaan’ yang diberikan kepada publik Iran atau komunitas internasional.
Jika Ayatollah Ali Khamenei memang tewas dalam serangan, hal itu akan memicu krisis suksesi di Iran. Khamenei memegang otoritas konstitusional tertinggi atas militer, pemerintah, dan peradilan. Kematiannya kemungkinan akan membuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merebut kendali absolut dan tanpa pengawasan atas negara tersebut.
Target Serangan
Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) menargetkan Ali Khamenei. Hal ini sebagaimana dilaporkan oleh lembaga penyiaran publik Israel, Kan.
Selain Ali Khamenei, serangan Israel dan AS juga disebut menargetkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. “Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian termasuk di antara target serangan,” lapor Kan, mengutip sumber Israel, Sabtu.
Sebuah sumber yang mengetahui masalah tersebut sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa Khamenei tidak berada di Teheran dan telah dipindahkan ke lokasi yang aman. Sebuah sumber Iran yang dekat dengan pemerintah mengatakan beberapa komandan senior di Korps Garda Revolusi Islam Iran dan pejabat politik telah tewas. Namun, hal ini belum dapat dikonfirmasi.
Media pemerintah melaporkan pada Sabtu pagi bahwa Pezeshkian “aman dan sehat,” setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran. “Presiden Masoud Pezeshkian aman dan sehat dan tidak mengalami masalah,” lapor kantor berita IRNA, bersama dengan kantor berita Mehr dan ISNA.





