JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) memberikan penjelasan terkait rencana pemerintah Indonesia dalam mengimpor beras dari Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan bahwa impor yang dilakukan bukanlah beras konsumsi umum, melainkan beras khusus dengan volume terbatas.
Menurut Zulhas, jumlah beras yang akan diimpor adalah sebanyak 1.000 ton per tahun. Bahan pokok ini tidak ditujukan untuk pasar umum, tetapi lebih kepada kebutuhan spesifik seperti restoran internasional atau konsumen dengan kondisi kesehatan tertentu, misalnya penderita diabetes.
“Kalau beras khusus, ada juga beras untuk orang yang menderita gula. Kita jelas bukan beras yang digunakan untuk makanan sehari-hari,” ujar Zulhas saat berbicara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan bahwa beras khusus biasanya memiliki karakteristik unik dan tidak tersedia secara luas di pasar domestik. Contohnya, beras yang diperlukan oleh restoran Jepang di Indonesia, yang sering kali mengimpor beras langsung dari negara asalnya. Harga beras jenis ini relatif mahal dan hanya diminati oleh segmen tertentu.
“Mahal itu, harganya bisa mencapai 100 ribu per kilogram. Tidak semua orang mau membelinya, hanya mereka yang sering makan di restoran Jepang,” tambahnya.
Menko Pangan menekankan bahwa Indonesia tidak melakukan impor beras medium atau beras konsumsi dari AS. Ia menilai produksi dalam negeri sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain itu, beras khusus yang diimpor memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan beras lokal, sehingga tidak kompetitif di pasar umum. Hal ini menjadi alasan utama mengapa impor hanya dilakukan untuk kebutuhan spesifik.
Impor beras ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang tarif imbal balik dengan Amerika Serikat. Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART), disebutkan bahwa Indonesia akan mengimpor komoditas pertanian senilai 4,5 miliar dolar AS. Salah satu komoditas yang dimaksud adalah beras dengan total 1.000 ton per tahun.
Beras yang diimpor mencakup beberapa jenis, seperti gabah, beras lepas kulit, beras putih, dan beras pecah (menir). Impor ini dilakukan sebagai bentuk kerja sama perdagangan antara dua negara, yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan ekonomi bilateral.
Jenis-Jenis Beras yang Diimpor
- Gabah: Beras dalam bentuk biji utuh sebelum diproses.
- Beras lepas kulit: Beras yang telah dipisahkan dari kulitnya tetapi belum dihaluskan.
- Beras putih: Beras yang telah diproses hingga bersih dan siap dikonsumsi.
- Beras pecah (menir): Beras yang telah diproses dan memiliki tekstur yang berbeda dari beras putih biasa.
Dengan adanya impor beras ini, pemerintah berharap dapat memenuhi kebutuhan pasar khusus tanpa mengganggu pasokan beras nasional. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat hubungan dagang antara Indonesia dan AS.





